Tak ada kata dan ucapan yang mengelegar, namun alam dengan caranya sendiri memberi peringatan akan ulah oknum manusia sebagai makhluk yang lalai dipermukaan bumi ini.
Seharusnya manusia sebagai pembawa dan penjaga amanah atas anugrah yang melimpah bagaimana mempertahankan keseimbangan alam ditengah peradaban dan mobilitas yang semakin melaju, peradaban meninggalkan gesekan tajam membias pada sendi kehidupan manusia akibat tindakan dan kebijakan yang salah sehingga mengakibatkan bencana alam terjadi dimana-mana dipenghujung tahun 2025.
Catatan Kelam : H.Sam Asiku

Saya hanya bisa menulis dalam hati, tentang bait- bait derita dan kemalangan yang menimpah manusia, bahwa ternyata ketersediaan sumber daya alam yang mengiurkan, telah meruntuhkan iman, yang seharusnya kekayaan alam itu menjadi ujian bagi manusia apakah memanfaatkan sesuai kebutuhan atau dengan syahwat keserakahan?
Bencana alam yang tragis menguncang beberapa daerah, tanah longsor, banjir bandang tak terelakan lagi banyak nyawa melayang, tak terhitung kerugian materi, termasuk hunian masyarakat daerah yang terdampak hilang dalam sekejab menyisahkan kesedihan yang mendalam menyisahkan kebingungan.

Apakah kah ini yang dinamakan hukum keadilan sedang diberlakukan?
Lantas siapa yang disalahkan?
Setiap kejadian yang melanda akan kembali pada kata sebab akibat, dimana tudingan berarah kemana mencari siapa dalang sesungguhnya yang telah memicu peristiwa tagis yang memilukan. Kondisi saat ini masyakat akar rumput sangat merasakan dampak, mereka hanya bisa menjerit sehingga kehabisan suara, menangis pilu tanpa air mata yang telah mongering.
Situasi dan kondisi membuat mereka pasrah saat diperhadapkan dengan krisis sosial, manakala hunian dan bahan makanan tak ada. Fenomena yang telah menoreh luka dan trauma yang dalam disetiap jiwa yang terdampak.
Bahwa ternyata sang pencipta yang maha pengasih dan maha penyang kadang disalahkan, namun pada realitasnya, manusia dengan sengaja menjauhi sifat kasih sayang sang pencipta yang agung. Ketamakan dan karakusan sudah kronis menguasai akal sehat, sehingga kehilangan kecerdasan hanya karena ketamakan dan kerakusan memperkaya diri, tanpa menimbang dan memperhitungkan lagi keseimbangan alam lagi. Mereka adalah perusak.
Sangat memilukan jerit tangis diantara sekian banyak korban meninggal dan luka-luka, menjadi lukisan buram diatas kanvas bencana alam, fenomena yang memilukan patut menjadi perhatian dan kajian pihak yang berkompeten untuk penanggulangannya.
Belum ada kata terlambat untuk sadar dan tidak mengulangi praktik yang telah merusak keseimbangan itu.
Namun yang pasti, setiap ciptaanya yang diberi akal akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk dihadapan pemilik keadilan sejati, Dialah yang maha adil.