JPSulteng, Makassar — Pengurus Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PP LIDMI) sukses menggelar Webinar Kepemudaan Nasional, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dengan tajuk “Dari Sumpah Pemuda Menuju Kebangkitan Peradaban | Rekonstruksi Peran Pemuda Muslim dalam Mengisi Kemerdekaan Indonesia,” pada Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube ini menjadi ruang refleksi untuk meneguhkan kembali peran strategis pemuda Muslim dalam menjaga persatuan bangsa, membangun kualitas diri, serta mempersiapkan kepemimpinan masa depan.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua PP Lidmi Nasrul, S.Pd., M.Pd., mengajak seluruh peserta untuk memaknai Hari Sumpah Pemuda bukan hanya sebatas peringatan historis semata.
“Momentum Sumpah Pemuda tidak semestinya berhenti pada peringatan historis, tetapi harus menjadi pijakan untuk membangun generasi yang siap mengambil tanggung jawab bagi masa depan bangsa. Pemuda tidak boleh menjadi penonton perubahan, tetapi harus turut serta mengambil bagian dari lahirnya perubahan tersebut,” ujarnya.
Hadir sebagai narasumber, Assoc. Prof. Muhammad Ammar Naufal, S.Pd., M.Ed., Ph.D., akademisi Universitas Negeri Makassar sekaligus Ketua II PP Lidmi periode 2020–2022, dan Ustaz H. Ardian Kamal, M.Sc., Ketua Yayasan Amal Jariyah Indonesia, yang juga salah satu inisiator lahirnya Lidmi pada masanya.
Dalam pemaparannya, Ammar Naufal mengajak peserta melihat kembali relevansi tiga ikrar Sumpah Pemuda 1928, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa dalam menjawab persoalan Indonesia hari ini.
“Semangat ‘Satu Tanah Air’ perlu diterjemahkan ke dalam komitmen terhadap pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia, dari Jawa hingga Papua. Persatuan wilayah tidak cukup dimaknai secara geografis, tetapi juga perlu diwujudkan melalui keadilan dan kesempatan pembangunan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Dosen FMIPA UNM tersebut kemudian melanjutkan tafsir dari ikrar dari sumpah pemuda.
“Kemudian, ikrar satu bangsa menuntut komitmen untuk merawat kohesi sosial di tengah berbagai perbedaan, termasuk menghadapi polarisasi yang berkembang di ruang digital. Adapun semangat satu bahasa Indonesia perlu diperkuat melalui peningkatan literasi, pengembangan nalar kritis, dan komunikasi publik yang sehat,” lanjut Amar.
Perspektif tersebut menegaskan bahwa tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar mempertahankan simbol persatuan, melainkan memastikan bahwa persatuan mampu melahirkan kehidupan kebangsaan yang lebih adil, dewasa, dan konstruktif.
Sementara itu, Ustaz H. Ardian Kamal menekankan bahwa pemuda merupakan motor penggerak perubahan di setiap zaman.
“Dalam sejarah, para pemuda merupakan motor penggerak perubahan setiap zaman. Karena itu, masa muda harus dimanfaatkan sebagai fase strategis untuk membentuk kualitas diri dan mempersiapkan kepemimpinan di masa mendatang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tiga kekuatan utama yang perlu dikembangkan oleh pemuda, yakni kekuatan fisik, semangat, dan pikiran.
“Masa muda punya tiga kekuatan penting yang harus dikembangkan, yaitu fisik, fikir, dan juga semangat yang tinggi. Ketiganya menjadi modal penting agar generasi muda tidak hanya memiliki keberanian dan energi untuk bergerak, tetapi juga kecakapan berpikir serta kesiapan memikul tanggung jawab,” tuturnya.
Melalui Webinar Kepemudaan Nasional ini, PP Lidmi mendorong agar peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran generasi muda terhadap tanggung jawab sejarahnya. Merawat persatuan, memperkuat intelektualitas, menyiapkan kepemimpinan, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi Indonesia.
Laporan: Lidmi Media Center
