JURNALPOLRISULTENG.ID – Penghelatan pemilu serentak 2024 semakin dekat, dibanyak tempat yang mengemuka adalah perdebatan pemilihan calon legislative, yang menelorkan banyak prediksi kekuatan partai yang dijagokan.
Banyak prediksi anggota DPDR Tojo Una-Una terpilih nanti akan didominasi politisi lama yang masih duduk dikursi dewan saat ini. “The old players will collect a lot of votes”
Ada dua partai saat ini mewacana tentang kekuatan dalam pemilihan caleg DPRD Tojo Una-Una, Partai Golkar yang diketuai Ilham Lawidu, SH yang saat ini masih menjabat wakil Bupati Tojo Una-Una, dan Partai NasDem yang diketuai DR. Mahmud Lahay, SE, M.Si.
Partai Golkar sebagai partai legendaris memiliki perjalanan panjang, karena jam terbang yang cukup lama dengan segudang pengalaman dan prestasi diblantika perpolitikan dinegeri ini.
Partai Golkar adalah mesin yang telah banyak memproduksi kader partainya, yang saat ini menyebar pada partai lain yang memiliki benang merah dengan Golkar, paling tidak pernah menjadi bagian Partai Yang berlambang beringin itu.
Sejarah Golongan Karya (Golkar) muncul dari kolaborasi gagasan tiga tokoh, Soekarno, Soepomo, dan Ki Hadjar Dewantara, ketiganya, mengajukan gagasan integralistik-kolektivitis sejak 1940, Saat itu, gagasan tiga tokoh ini mewujud dengan adanya Golongan Fungsional.
Dari nama itu kemudian diubah dalam bahasa Sansekerta sehingga menjadi Golongan Karya pada 1959. Hingga kini, Golongan Karya dikenal dalam dunia politik nasional sebagai Golkar.
Pada dekade 1950-an, pembentukan Golongan Karya semula diorientasikan sebagai perwakilan dari golongan-golongan di tengah masyarakat.
Perwakilan ini diharapkan bisa merepresentasikan keterwakilan kolektif sebagai bentuk ‘demokrasi’ yang khas Indonesia. Wujud ‘demokrasi’ inilah yang kerap disuarakan Bung Karno, Prof Soepomo, maupun Ki Hadjar Dewantara.
Pada awal berdiri, Golkar bukan mewujud sebuah partai, melainkan perwakilan golongan melalui Golongan Karya.
Ide awal Golkar yaitu sebagai sistem perwakilan (alternatif) dan dasar perwakilan lembaga-lembaga representatif.
Tahun 1957 adalah masa awal berdirinya organisasi Golkar. Pada waktu itu sistem multipartai mulai berkembang di Indonesia.
Golkar sebagai sebuah alternatif merupakan organisasi yang terdiri dari golongan-golongan fungsional, Golkar juga memiliki tujuan untuk membangun organisasi masyarakat atau ormas.
Golkar beralih menjadi sebuah partai politik ketika Bung Karno yang bertindak sebagai konseptor dan Jenderal TNI (Purn) Abdul Haris Nasution yang berfungsi sebagai penggerak, bersama dengan Angkatan Darat, mengubah Golkar sebagai sebuah partai politik untuk melawan PKI.
Hal ini bertentangan dengan konsep awal Golkar yang menolak konsep partai dan PKI yang menuntut perbedaan kelas. Golkar memiliki konsep untuk menumbuhkan persatuan dan kerjasama.
Akhirnya, Golkar yang anti partai runtuh menjadi sebuah partai, Ide Golkar yang awalnya menghancurkan partai-partai yang ada, justru menjadi sebuah partai yang eksis hingga saat ini.
Partai Golongan Karya sebelumnya bernama Golongan Karya dan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), adalah sebuah partai politik di Indonesia.
Partai Golkar bermula dengan berdirinya Sekber Golkar di masa-masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno.
Tepatnya tahun 1964 oleh Angkatan Darat digunakan untuk menandingi pengaruh Partai Komunis Indonesia dalam kehidupan politik.
Golkar merupakan partai yang telah dirintis sejak zaman Orde Lama. Kehadirannya di masa Orde Baru dalam rangka pembaruan politik di Indonesia.
Pada Pemilu 3 Juli 1971, Sekber Golkar memperoleh 62,8 % suara sehingga mendapatkan 236 dari 360 kursi anggota dalam DPR.
Jumlah kursi ini masih ditambah dengan 100 kursi yang akan diisi anggota yang diangkat pemerintah.
Jumlah suara terbesar partai 18,7 % diperoleh NU, sedang PNI hanya mendapatkan 6,9 % dan Permusi, penerus Masyumi hanya 5,4%.
Partai Golongan Karya (Partai Golkar), sebelumnya bernama Golongan Karya (Golkar) dan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), merupakan partai politik di Indonesia.
Partai Golkar didirikan pada tanggal 20 Oktober 1964 oleh Soeharto dan Suhardiman.
Sedang Partai NasDem
Mekipun dibilang baru, Namun pendiri Partai NasDem bukan orang baru dalam politik, Surya Palo adalah sosok yang telah banyak menoreh catatan dalam perannya dinegeri ini.
Betapa Partai Nasdem adalah sebuah partai politik di Indonesia yang resmi dibentuk pada 26 Juli 2011, yang berawal dari organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat yang dipimpin Surya Paloh.
Kelahiran Partai NasDem tidak bisa dipisahkan lepas dari visi dan misi utama ormas Nasional Demokrat, yaitu menggalang Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.
Restorasi Indonesia adalah gerakan memulihkan, mengembalikan dan memajukan fungsi pemerintahan Indonesia pada cita-cita proklamasi 1945.
Partai ini terus mengusung restorasi Indonesia dengan empat cakupan yakni memperbaiki, mengembalikan, memulihkan dan mencerahkan.
Partai Nasdem memiliki visi mengembalikan tujuan bernegara yang termaktub dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yakni Negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Partai ini harus mampu memberi catatan baik dalam tiap perjalanan partai-partai politik di Indonesia.
Walau partai Nasdem tergolong baru akan tetapi partai NasDem telah membuat prestasi yang luar biasa.
Prestasi luar biasa yang dimaksudkan Surya Paloh adalah partai ini telah memiliki visi dan misi yang konkret (Restorasi Indonesia) yang merupakan perwujudan dari nasionalisme kebangsaan dan kedaulatan nasional yang berpijak pada masyarakat sejahtera.
Tentu semangat yang melatari berdirinya NasDem bukan slogan tapi dibarengi dengan kekuatan melalui mesin partai yang handal dan telah dibuktikan diberbagai kontestasi di Republik ini.
NasDem adalah partai terbuka, mengajak anak bangsa untuk menjadi kekuatan NasDem, meskipun keterbukaan itu sangatlah selektif, Elektabilitas yang diusung partai ini menjadi standar rekrutmen baik dalam kompetisi pemilihan Legislatif, Daerah, Provinsi hingga pemilihan anggota DPRD-RI dan pemilihan Presiden Republik Indonesia dan pasangannya.
Pembuktian ini telah di Torehkan dalam sejarah banyak kemenangan partai Nasdem hingga pemenangan Presiden Republik Indonesia Ir. H Joko Widodo.
Meskipun partai Nasem dan Partai Golkar diprediksikan akan mendominasi kursi legislative, namun banyak partai lain yang memiliki peluang, bahkan menjadi kuda hitam bakal memenangkan kontestasi pileg pada pemilu serentak 2024.
Semua tergantung pada pola dan dan cara memainkan peran ditengah-tengah masyarakat, sebab tak dipungkiri bahwa setiap saat politik itu berubah termasuk dukungan masyarakat. mengapa demikian?
“Dalam politik tidak yang abadi selain kepentingan”//(samas)
@ dikutip dari berbagai sumber