Berita

Memetik Hikmah Dibalik Peristiwa  Sispala “Napolion” Smansa Ampana Kota

930
×

Memetik Hikmah Dibalik Peristiwa  Sispala “Napolion” Smansa Ampana Kota

Sebarkan artikel ini

Kejadian tentang aksi kekerasan dan pembulian terhadap beberapa siswa oleh sesama anggota Organisasi Siswa Pencinta Alama (Sispala) “Napoleaon” telah  menjadi sorotan public pekan ini setelah diunggah di akun Facebook, salah satu penggiat Media Sosial.

Peritiwa itu menghentak emosi para orang tua korban, sehingga melaporkan peristiwa yang tak mendidik itu  kepada pihak kepolisian.

Dimana langkah bijak pimpinan SMA Negeri I Ampana Mohammad Khamim, M.Pd mengelar upaya melalui mediasi yang menghadirkan orang tua korban dan orang tua oknum pelaku.

Catatan : Sam Asiku

Hingga hari Sabtu 9 Nopember 2024, proses mediator sedang berlangsung di sekolah di SMA Negeri I Ampana, sebelum  Kamis 7 Nopember 2024, kepala SMA Negeri 1 Ampana Kota, telah menerbitkan surat resmi pembekuan Sispala Napoleon,  samansa Ampana Kota. Surat itu, telah ditembuskan pada kacabdijar Ampana Kota dan Kadis Dikjar Kabupaten Tojo Una-Una.

Meninjau peristiwa yang minimbulkan spekulasi berpikir dikalangan masyarakat, membutuhkan sikap bijak bagi pemangku kepentingan Pendidikan di SMA serta  pejabat diatasnya terkait pengambilan keputusan selanjutnya.

Diketahui, SMA Negeri 1 Ampana adalah sekolah menerapkan disiplin bagi civitasnya, yang dituangkan pada  aturan internal sekolah, dalam upaya  peneggakan disiplin peserta didik di sekolah tersebut.

Dari peristiwa itu, pihak orang tua korban mengingginkan para siswa yang terlibat dalam peristiwa itu dikeluarkan dari SMA Negeri I Ampana Kota, dimana mereka akan menindak lanjuti kasus itu melalui jalur hukum.

Dilematis, dan menjadi tantangan bagi pemerhati Pendidikan di Kabupaten Tojo Una-Una  mencermati peristiwa itu  dengan jernih,  perlu  berpartisipasi menyelesaikan permasalahan itu, mengingat suasana saat ini  sedang disibukkan dengan agenda pilkada Tojo Una-Una.

Rangkaian peristiwa menjadi pengalaman berharga serta  menjadi guru bagi semua pihak, bagaimana memandangnya,  serta mencari jalan keluarnya.

Dipastikan, dari pihak keluarga korban merasakan perbuatan para pelaku adalah peristiwa yang keterlaluan karena aksi kekerasan dan pembuliyan itu, telah menganggu fisik dan mental korban, sehingga menderita sakit dan trauma, sehingga  sampai saat ini  belum mau masuk sekolah seperti biasanya,

Sementara pihak para pelaku dan orang tua mereka,  merasakan  sanksi sosial akibat keteledoran sehingga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, namun dibalik perbuatan tercelah para siswa itu, perlu  menimbang para siswa itu tak lama lagi akan masuk jenjang perkuliahan, diusia mereka yang masih mudah dan labil.

Mereka telah  menyadari, peristiwa itu bukan hanya menciderai nama baik sekolah, akan tetapi jauh dalam lubuk hati menimbulkan penyesalan, mengingat imbas peristiwa kekerasan itu berujung pada kesibukan semua pihak, bahkan akan berlanjut pada proses hukum.

Perlu disadari, dalam kehidupan ini, siapapun tak akan luput dari kehilafan dan kesalahan, namun kesadaran adalah pintu  keluar untuk  memperbaiki sikap dan prilaku dalam berinteraksi pada kehidupan  kedepan.

Sanksi apapun bukan jalan satu-satunya untuk penyelesaian masalah, dimana para arif bijak mengatakan, hukum tertinggi adalah musyawarah dan mufakat, sangat bijak untuk mempertahankan  keutuhan sesama insan manusia, dalam lingkaran silaturrahim.

Peristiwa Sispala SMA Negeri I Ampana, hendaklah menjadi wahana edukasi semua pihak, dimana pada kesimpulan perlu meninjau kembali  kata PERHATIAN dan Tanggung jawab. 

Tanggungjawab dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak semata dipikulkan pada pundak guru semata, akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama, dimana peran orang tua dan lingkungan ikut menjadi penentu dizaman perkembangan era digitalisasi yang melejit,  terus  didukung oleh fasiltas infomasi dan komunikasi yang terus berkembang.

Menghadapi tantangan zaman, dibutuhkan kebijakan dalam memanfaatkan media sosial, terutama memfilter tontonan yang tidak mendidik, seperti aksi kekerasan dan tindakan-tindakan yang tak terpuji lainnya, sebetulnya  menjadi salah satu pemicu yang ikut mendorong prilaku manusia termasuk para peserta didik disemua tingkatan.

Maraknya tonton yang mudah dan  bebas diakses diberbagai media sosial, membutuhkan perhatian dan  kehati-hatian karena tanpa disadari akan memaintset  prilaku pemirsa,  karena rutin mengkonsumsi sajian visual itu.

Semoga penyelesaian mediasi kasus Sipala SMA Negeri I Ampana akan mendapatkan solusi dan penyelesaian yang baik. (samas)