Sebuah rencana besar Kepala Desa Rismalan Pandita bersama masyarakatnya yang mendiami desa Lemoro Kecamatan Tojo Kabupaten Tojo Una Una, menjadi kegelisahan dalam mewujudkan desa swasembada beras. Seakan setiap jengkal tanah tidak akan disisakan, dimanfaatkan secara maksimal memenuhi tuntutan itu. Ungkap Risman Pandita saat dimintai keterangannya, Senin 13 Oktober 2025.
Catatan : H. Sam Asiku

Bagi Kepala Desa Lemoro, pencangan program Ketahan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto, merupakan angin segar jika melihat 4 komitmen yang ditunjukan yakni, visi ketahanan pangan, program pembangunan pangan, dukungan anggaran, dan prioritas pembangunan kawasan swasembada pangan.
Program itu menjadi daya dorong yang kuat dalam kesyukuran dan menyambut gembira sinergitas program daerah dan Pusat, nampak diwujudkan oleh bupati Tojo Una Una Ilham Lawidu, SH, menindak lanjutinya dengan program Cetakan Sawah Rakyat (CSR) yang telah berhasil mengucurkan dana ratusan Miliyar rupiah dari pusat.
“Memulakan program CSR, bupati akan hadir besok hari Selasa, untuk melakukan penanaman perdana, kami telah siapkan lahan seluas 1 hektar” Ungkap Risman Pandita.

Ia menjelaskan, saat ini sedang dilakukan land Clearing seluas 9, 5 Ha serta Lan Leveling seluas 3 Ha.
Penanaman Padi perdana direncanakan akan dihadiri Bupati bersama ketua Penggerak PKK Tojo Una Una, Unsur Forkopimda, serta dinas terkait diantaranya Dinas Pertanian dan Dinas PUPR.
Terkait dengan pertanian banyak upaya dilakukan diantaranya terus membangun kesadaran masyarakat serta memberi dorongan, melihat potensi yang dimiliki Desa Lemoro sangat menjanjikan. Apalagi didesa Lemoro ditunjang oleh sarana Irigasi yang dapat mengairi 3 desa, yaitu Desa Korondoda, Tayawa dan Lemoro.

Pada pernyataan lainnya, Risman Pandita mengangkat topik semangat masyarakat yang lebih mengandalkan menggarap sawah basah, dari pada lahan kering yang sangat riskan terhadap resiko kebakaran, disaat musim angin barat yang membawa kemarau.” Beberapa waktu yang lalu banyak tanaman perkebunan masyarakat yang terbakar” Ungkapnya.
Upaya maksimal masyarakat desa Lemoro masih terkendala dengan harga pupuk cukup tinggi, namun ia optimis, program CSR menjawab keluhan masyarakat. Program itu akan memberi dampak positif diantara kemudahan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengolahan pertanian, serta pemasaran hasil pertanian yang terjamin harganya.
Pada penuturannya desa Lemoro memiliki luasan sawah basah sekitar 150 Ha dengan hasil panen rata-rata 2 kali dalam setahun, capaian hasil masih standar masih kurang ujarnya hanya 3 hingga 4 Ton/Ha. .
Pada akhir percakapan Kades Lemoro mengatakan gagasannya kedepan, akan memprogramkan pertanian dengan sistem verticulture, lahan pertanian bertingkat yang masih memungkinkan dilakukan di Desa Lemoro. “Sistem persawahan terasering , selain memiliki fungsi khusus juga bisa menjadi destinasi wisata” Tandas Risman Pandita.

Foto Istimewa
Dari beberapa artikel, menulis sistem tanam vertikal farming salah satu teknik pertanian yang saat ini diminati berbagai kalangan, menjadi tren baru bagi masyarakat disebabkan oleh 3 hal.
Pertama, siapapun dan dimanapun bisa menjadi petani, tanpa turun langsung ke ke sawah atau ladang sehingga tanpa perlu kotor dan kepanasan.
Kedua, vertical farming ini sangat cocok untuk masyarakat perkotaan yang turun didesa ingin bercocok tanam, karena tidak mempunyai lahan yang luas atau bahkan tidak mempunyai lahan sama sekali.
Ketiga, sebagai salah satu alternatif cara untuk mengisi waktu, dengan bertani vertikal farming paling tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga sehingga dapat menghemat pengeluaran. (samas)