Gambar Ilustrasi
Gemerlap Kembang api beraneka warna menghiasi langit Tojo Una Una disaat kirab budaya sedang bergerak, difile itu telah menghadirkan barisan panjang dari 12 kecamatan, melewati panggung kehormatan dan stand pameran lokal dan dari luar daerah, yang dibangun dikawasan lapangan Bumi Mas Uemalingku STQ STQ tepatnya didepan Kantor Bupati Tojo Una Una.Rabu malam 10 Desember 2025.
Ribuan pengunjung memadati arena Pameran pembangunan yang digelar sepekan, dengan atraksi kesenian beladiri budaya tradisional dan aksi peragaan kata beladiri taekwando, dentuman musik kobarasi dari panggung hiburan menambah malam semakin semarak.
Petugas pengaman sibuk mengatur lalu lintas terutama di Jalan Jalur dua menuju lapangan Bumi Mas, sesak dengan kenderaan roda empat dan dua serta pejalan kaki, sehingga mobil DN 2 yang mengantar Wakil Bupati sedikit mengalami kesulitan menuju tempat acara.
Ketua panitia, Kadis Parawisata Asrin Soga , S,Sos, MAP merangkai peristiwa itu menjadi momen yang tak terlupakan pada peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Tojo Una Una ke 22, tepatnya pada 18 Desember diperingati sejak terbentuknya Kabupaten Tojo Una Una 22 tahun yang silam.
Perjuangan untuk menjadi daerah otonom telah melewati rentang waktu yang panjang, tak mudah disaat political will kabupaten induk, belum berpihak para pejuang yang mengagas berdirinya kabupaten Tojo Una Una, sejak tahun 1963.
Catatan : H. Sam Asiku

Satu tahun Bupati dan Wakil Bupati Ilham Lawidum SH dan Hj. Surya, S.Sos, M.Si menjabat, adalah ajang eveluasi kinerja pemerintah Daerah Kabupaten Tojo Una Una.
Evaluasi bukan pada soal keberhasilan infrastruktur, namun pada kebijak keberpihakan pada masyarakat akar rumput?
Pasangan ini tidak lahir dari sebuah rumpun dan warisan kekuasaan, namun takdir dan garis tangan yang telah menetapkan mereka bertahta sebagai pasangan pemimpin karena kekuasan ilahi semata.
Dibanyak pertemuan Ilham Lawidu, tanpa keraguan sedikitpun mengungkapkan liku hidup yang dijalaninya, dia tidak malu pada latar kehidupan dimasa kecil dan remaja, hidupnya yang tak memiliki segalanya, namun kehidupan dalam kondisi keterbatasan masa kecil sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Ia pernah melakoni sebagai penjajah kue membantu ibudanya, pernah berdagang gula merah yang tak pernah untung, pernah menjadi guru bersahaja dan berbagai peluang yang dimanfaatkan untuk menalangi hidupnya, yang kemudian menjadi sebuah rangkuman pengalaman dan guru sejati baginya.
Bahwa kedepan saat kekuasaan dilimpahkan kepadanya, derita dan keterbatasan yang dilaluinya tidak akan terulang pada Rakyat yang diayominya.

Peringatan HUT Tojo Una Una ke 22, adalah refkeksi kehidupan sang pemimpin Tojo Una Una saat ini, jejak kehidupan yang telah membawa langkahnya menjadi bupati.
Tak bisa dipungkiri bahwa rahmat dan karunia menjadi pemimpin di Negeri Sivia Patuju, lahir dari perbedaan sudut padang dan dukungan politik, baik dalam karir sebagai anggota legislative, wakil bupati dan saat ini menjadi bupati. Namun menurutnya tak ada musuh selain lawan politik.
Catatan penggalan kehidupan, semestinya menjadi guru bagi masarakatnya dalam memandang sang pemimpin, bahwa tak ada yang tak mungkin jika pencipta menghendaki seseorang untuk diberi amanah, menjadi pemimpin insan manusia dinegeri yang pernah menerima status daerah tertinggal dan memilik masyarakat yang miskin ektrim.
Meskipun realitas masyarakat Tojo Una Una, tidak pernah merasa hidup diwilayah tertinggal atau mengalami kehidupan super miskin sehingga tak makan dan tidur dibawa kolong jembatan.
Adalah sebuah tantangan bagi pemerintah Tojo Una Una dibawah kepemimpinan Ilham dan Surya ketika kebijakan pemerintah pusat menerapkan pemangkasan anggaran yang berimbas pada keuangan daerah yang harus memperketat ikat pinggang, memksimalkan anggaran hanya untuk melayani masyarakat.
Bahkan ditengah kepempinannya, Ilham Lawidu diperhadapkan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, dengan merekrut PPPK yang telah menyerap dua ratusan miliyar untuk memenuhi fasiltas dan pengajian sekitar 5 ribu pengawai kontrak itu.

Namun hingga perayaan menyambut Hut Tojo Una-Una ke 22, ia tetap berdiri tegak tak kehilangan keseimbang sebagai pemimpin, ia masih terus berusaha menciptakan suasana damai,hanya karena ia ingin melihat rakyat tersenyum dalam kegembiraan, meskipun ditengah keterbasan angaran nyaris kolaps.
Sebagai politikus kawakan partai berwarna kuning, identitas itu melekat dalam beberapa moment, yang mengisyarakat tentang tekad akan selalu berada dibarisan terdepan, maju sebagai garda untuk mengarahkan jalan pada tujuan, masyarakat yang sejahtera meskipun niat itu membutuhkan waktu dan kesabaran.
Hal ini perlu menjadi renungan bagi masyarakat, agar tetap mempertahankan kepercayaan dan keyakinan, bahwa Ilham Lawidu tidak hanya makan dan tidur, akan tetapi disetiap helaan nafasnya memikirkan kepentingan daerah dan masyarakatnya.
Semoga Peringatan Hut Tojo Una-Una ke 22 akan menginspirasi para pimpinan OPD, pejabat yang diberinya kepercayaan untuk terus mengali potensi yang dimiliki daerah ini untuk menalangi keterbasatan anggaran. Ironi di negeri yang memiliki potensi sumber daya Alam yang melimpah, yang menunggu kebijakan dalam program yang tepat mengarah pada keinginan bersama masyarkat yang sejahtera.(samas)