INFORMASI PERJALANAN HAJI TOJO UNA UNA

Butuh Ketahanan Mental Dan Fisik Saat Menjalankan Ibadah Haji Fase ARMUZNA.

405
×

Butuh Ketahanan Mental Dan Fisik Saat Menjalankan Ibadah Haji Fase ARMUZNA.

Sebarkan artikel ini

JURNALPOLRISULTENG.ID – MAKKAH, Kabar membahagiakan  H. Sudirman SN dari Makkah selaku  petugas Haji Daerah Kabupaten Tojo Una Una, juga sebagai ketua rombongan Kloter 10 Balikpapan melaporkan kondisi jemaah, yang hingga hari ini dalam keadaan  sehat walafiat. Makkah, Kamis 21 Mei 2026 pukul 21.08 Wita atau pukul 15.08 waktu Arab Saudi.

PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Indonesia selaku  tim resmi yang dibentuk oleh Kementerian Haji Republik Indonesia, terus memantapkan persiapan akomodasi diarafah dan Mina menjelang ARMUSNA.

Para petugas PPIH memastikan jemaah dapat beribadah di Tanah Suci dengan aman, nyaman, dan khusyuk. Mereka ditugaskan untuk mengelola berbagai aspek operasional, termasuk pembinaan, pelayanan ibadah, akomodasi, konsumsi, dan kesehatan para jemaah Calon Haji.

Menurut dr. Ramadhan jemaah haji asal Tojo Una Una, mengatakan perubahan cuaca ikut mempengaruhi para jemaah. “sebagian jemaah batuk dan demam, namun petugas kesehatan terus memantau kondisi para jemaah.

Diketahui ARMUSNA adalah puncak ibadah haji, di tiga tempat Arafah, Musdalifah dan Mina, membutuhkan ketahanan fisik dan mental.

15 cara bagi  para calon jemaah haji untuk menjaga mental dan ketahanan fisik saat menjalankan ibadah haji fase Armuzna.

1.Makan dengan teratur agar tubuh tetap fit dan bertenaga, sehingga tidak mudah sakit.

2.Untuk mengurangi bahaya dehidrasi, jemaah haji diusahakan meminum air secara teratur antara 200–300 CC,    setiap jam.

“Jangan tunggu haus, saat Armuzna suhu diperkirakan akan semakin panas, hingga harus waspada akan kekurangan cairan atau bisa dehidrasi,”

3. Kurangi kegiatan fisik yang tidak perlu sebelum melaksanakan ibadah Armuzna atau puncak haji pada 8 hingga 13 Zulhijah 1444 H.

“Kita harus menyimpan tenaga untuk kegiatan Armuzna ini,”

4. Usahakan mengurangi aktivitas di luar tenda.

5. Jika harus keluar tenda gunakan alat pelindung diri, seperti payung, masker, kacamata dan sendal yang nyaman.

“Jangan lupa juga bawa botol air minum, termasuk jika antre di toilet.

6. Bawa obat-obatan pribadi dan konsumsi teratur sesuai anjuran dokter.

7.Konsultasikan kesehatan terlebih dahulu ke petugas kesehatan, khususnya yang berisiko tinggi sebelum berangkat ke Armuzna.

8.Selalu bawa dan konsumsi minuman oralit saat di Armuzna.

9.Saling peduli dan menjaga antar jemaah.

10.Tetap bersama dari berangkat hingga pulang.

11.Ketika di area Armuzna tidak naik ke tebing, bukit atau bebatuan, tidak berbaring di jalan atau kolong kendaraan yang terparkir.

12.Pilih rute melempar jumrah yang aman sesuai arahan petugas haji Indonesia.

13.Tidak memaksakan diri melempar jumrah jika kesehatan tidak memungkinkan.

14. Mengikuti waktu melempar jumrah yang ditetapkan.

15.Hati-hati menggunakan tangga berjalan atau eskalator di area Jamarat, karena jalan yang cukup curam. Angkat pakaian di atas mata kaki agar pakaian tidak terinjak atau terjepit eskalator.

Perjalanan antara Arafah dan Mina

Dijelaskan H. Sudirman, dalam konteks ibadah haji, murur adalah skema pergerakan jemaah dari Arafah menuju Mina dengan cara melewati kawasan Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun atau bermalam (mabit). Bus hanya melintas perlahan atau berhenti sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke Mina.

Skema Murur terbagi 3:

  1. Murur bin nudzur ialah dikhususkan bagi jamaah lansia, dimana BUS mereka memasuki musdalifah melalui jalur khusus lansia dan hanya berhenti dimusdalifah sejenak, dan meneruskan perjalanan menuju mina
  2. Murur bittaraddudi ialah dimana jamaah yg sehat yg diangkut oleh Bus diatas jam 11 malam waktu arab saudi, maka mereka hanya berhenti sejenak di musdalifah tanpa turun dari Bus, setelah itu meneruskan perjalanan menuju mina
  3. Jamaah yg sehat yg diangkut Bus dari arafah menuju musdalifah diantara jam 7 sampai 11 malam waktu arab saudi, maka mereka mabit dimusdalifah turun dari bus sebagaimana biasanya .

Wukuf di Arafah adalah rukun haji terpenting (wajib) tidak boleh ditinggalkan. “Wukuf di Arafah”, kegiatannya adalah berdiam diri, berdoa, dan berzikir di Padang Arafah pada 9 Zulhijah, sejak tergelincir matahari hingga terbenam (atau fajar).

Inti Kegiatan adalah berdiam diri, merenung, dan memanjatkan doa-doa terbaik. Jemaah tidak diharuskan berdiri, namun duduk atau berbaring (bagi yang sakit) pun sah.

Adapun Rangkaian acara saat wukuf di Arafah, mendengarkan khotbah wukuf, lalu melaksanakan Salat Zuhur dan Asar secara jamak qashar.

Pada laporannya H. Sudirman sudah mengecek kesiapan di Arafah, tenda-tenda sudah didirikan dengan fasilitas didalamnya, setiap tenda menampung 360 Jemaah Haji.(Sam Asiku)