KABUPATEN TOJO UNA-UNA

Mereka Tidak Menolak Tua, Mereka Merawat Cahaya: Saat Mantan Pemimpin Melebur Rindu dipelataran  Senja

×

Mereka Tidak Menolak Tua, Mereka Merawat Cahaya: Saat Mantan Pemimpin Melebur Rindu dipelataran  Senja

Sebarkan artikel ini

Mereka berhimpun dalam sebuah rumah hangat bernama Persatuan Pensiunan Indonesia (PPI) Kabupaten Tojo Una-Una

JURNALPOLRISULTENG.ID, TOJO UNA UNA, Mentari senja enggan terbenam dengan keindahannya. Di ufuk barat Bumi Sivia Patuju, semburat merah jingga seolah tertahan di langit, menolak tenggelam.

Ia seperti tahu, di sudut Kabupaten Tojo Una-Una, ada sekelompok jiwa yang keceriaan dan semangatnya masih berpacu dengan waktu—sebuah sisa cahaya yang berbisik lirih tentang arti sebuah dedikasi dan keagungan pengabdian purna tugas. Mereka berhimpun dalam sebuah rumah hangat bernama Persatuan Pensiunan Indonesia (PPI) Kabupaten Tojo Una-Una.

Mereka yang kini berambut perak dan melangkah dengan ritme yang melambat, bukanlah orang-orang biasa. Di dalam rahim organisasi ini, melebur segala kasta masa lalu.

Di sana duduk bersama mantan bupati yang dulu digdaya, mantan wakil bupati, mantan Sekretaris Daerah (Sekda), hingga jajaran pejabat eselon II yang dahulunya adalah para penentu kebijakan dan arsitek pembangunan daerah, dokter, bahkan pengusaha yang tetap bersinar.

 

Namun hari ini, di hadapan Sang Waktu, mereka melepas baju kebesaran itu dan duduk setara sebagai seorang hamba yang telah menuntaskan tugas sejarahnya.

Mereka tidak menolak tua, namun mereka menolak untuk padam. Mereka adalah insan manusia yang memilih untuk merawat sisa napas dengan tetap mempertahankan eksistensi diri—menjadi pelopor yang menginspirasi, menjadi penyemangat yang tak membiarkan api di dadanya redup ditelan usia.

Nakhoda Bersejarah di Penghujung Jalan Pengabdian

Rumah bernaung ini dipimpin oleh Ir. Taslim D.M. Lasupu, M.T., seorang lelaki yang jejak langkahnya telah terukir abadi dalam lembaran sejarah birokrasi daerah menitih karir dari bawah perlahan beranjak hingga menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tojo Una-Una.

Di bawah keteduhan jemarinya, PPI diubah menjadi benteng pertahanan bagi raga yang mulai menua agar tetap produktif, ruang suci untuk merajut kembali tali silaturahmi yang sempat renggang oleh kesibukan masa lalu, serta mimbar suci untuk terus mengalirkan sumbangsih pemikiran demi tanah kelahiran tercinta.

Bagi mereka, helai-helai rambut memutih dan kerutan di wajah bukan penanda kelemahan. Bergabung dengan PPI bukanlah bentuk kepasrahan atas usia yang kian senja. Sebaliknya, setiap detik berkumpul di wadah ini adalah sebuah monumen pengingat abadi atas pencapaian mulia selama puluhan tahun berselimut seragam abdi negara.

Ada rasa haru yang membuncah di dada, sebuah sujud syukur yang tak putus-putusnya mereka panjatkan, karena di kala banyak rekan sejawat yang telah mendahului atau terbaring tak berdaya, mereka masih dianugerahi kondisi sehat walafiat untuk menikmati sisa hari tua.

Dari Ketua PPI Tojo Una Una diperoleh keterangan, jumlah pensiun didaerah ini mencapai ribuan orang, “Rillnya jumah pensiunan di Tojo UnaUna mencapai ribuan orang, namun yang aktif dalam wadah PPI belum mencapai  100 orang eksis dalam program organisasi, seperti senam, jalan kaki, berenang dan aktifitas lainnya.”

Menurutnya  Anggota PPI di Tojo Unna Una, tidak pernah disekat oleh status sosial, agama suku dan ras, mereka ibarat seikat lidi yang kokoh, pribadi pribadi yang menyatu  yang eksis mempertahankan rasa kebersamaan itu adalahkeindahan yang berkah.

Merawat Jiwa dan Raga di Balik Riak Senja

Memasuki masa purnabakti sejatinya adalah sebuah perpindahan fase hidup yang sunyi dan kerap kali menggetarkan hati. Ruang kerja yang dulu bising kini berganti sepi. Di sinilah PPI Tojo Una-Una hadir, memeluk mereka agar jiwa dan mental mereka tidak terlempar ke dalam kesunyian.

Melalui kebersamaan yang dibangun, para tokoh bangsa di tingkat daerah ini dituntun untuk saling menguatkan:

Silaturahmi yang Meneteskan Air Mata Rindu: Pertemuan rutin tak lagi sekadar rapat formal, melainkan ruang melepas rindu, tempat mereka saling menatap mata satu sama lain, menyadari bahwa mereka pernah berjuang bersama membangun daerah ini.

Pikiran yang Tak Pernah Pensiun: Pengalaman maha luas yang mereka miliki tidak dibiarkan terkubur. Sisa-sisa pemikiran brilian dari para mantan pemimpin ini tetap dialirkan sebagai kompas dan lentera bagi pemerintah daerah yang tengah berjalan.

Menjaga Kebugaran, Merayakan Kehidupan: Dengan aktivitas fisik ringan dan senyum yang merekah, mereka saling menyemangati untuk hidup sehat, memastikan raga ini tetap tegap demi melihat anak cucu tumbuh berkembang dalam dekapan kebahagiaan.

Di bawah kepemimpinan Ir. Taslim D.M. Lasupu, M.T., PPI Kabupaten Tojo Una-Una telah menjelma menjadi sebuah pelataran senja yang indah, penuh tawa dan senyum lepas tanpa belengguh apapun.

Pengabdian mereka mungkin telah berganti rupa, jabatan mereka telah usai, namun cinta mereka pada Tojo Una-Una terbukti melampaui batas usia.

Mereka mengajarkan kita satu hal: bahwa hingga ketukan terakhir, semangat untuk menjadi manusia yang berguna tidak akan pernah menemui kata pensiun, mereka meyakini semua itu semata karena izin tuhan dalam menjalani kehidupan ini.(H. Sam Asiku)