JURNALPOLRISULTENG.ID, TOJO UNA UNA – Pemadaman listrik yang berulang di Kabupaten Tojo Una-Una kini tidak boleh lagi dianggap sebagai gangguan biasa, melainkan sebuah persoalan luar biasa dalam pembangunan daerah.
Keandalan pasokan listrik dinilai berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat serta daya saing ekonomi daerah, khususnya bagi pelaku UMKM dan sektor investasi.
Berkaca dari langkah mitigasi kelangkaan energi yang dilakukan Kota Palu terhadap pasokan PLTA Poso, Pemerintah Daerah (Pemda) Tojo Una Una didesak untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dan antisipatif guna mengatasi krisis energi ini sebelum berdampak lebih fatal terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
Kondisi kekinian dikabupaten Tojo Una Una, Pemadaman bergilir kerap dipicu oleh keterbatasan daya dibanding beban kelistrikan yang terus tumbuh, serta kondisi mesin pembangkit diesel yang harus menjalani perawatan tanpa cadangan memadai.
Situasi ini pun melahirkan berbagai narasi di tengah masyarakat karena listrik menjadi pemantik utama dalam menggerakkan potensi alam daerah agar tidak sekadar berhenti sebagai potensi.
Kondisi yang memperhatinkan tersebut, mengundang banyak narasi negatif, situasi yang runyam justru dibutuhkan pemikiran yang cemerlang sebagai penengah dalam situasai yang membingungkan saat ini.
Terhadap pemadam listrik yang tak beraturan lagi, terbangun dukungan partisipasi, mengetengahkan tiga strategi utama yang dinilai mendesak untuk diadopsi oleh Pemda Tojo Una Una
- Mitigasi Sebelum Gelap (Langkah Antisipatif)
Pemda diharapkan bersiap sebelum gangguan terjadi melalui pemeliharaan jaringan yang terjadwal, pengamanan cadangan bahan bakar dan suku cadang, serta membangun komunikasi yang transparan. Selain itu, penentuan skala prioritas layanan vital dan kesiapsiagaan bencana menjadi poin utama yang harus disiapkan.
- Mitigasi Saat Terjadi Pemadaman (Manajemen Krisis)
Jika pemadaman bergilir terpaksa dilakukan, pengelolaannya harus adil, merata, dan diumumkan secara transparan agar masyarakat mengetahui wilayah serta durasi pemadaman. Fasilitas vital seperti Rumah Sakit, Puskesmas, instalasi air bersih, dan layanan darurat wajib dilindungi dengan daya cadangan. Pemda juga perlu mengoordinasikan pemanfaatan genset instansi/pelaku usaha pada jam beban puncak, membuka posko informasi pengaduan yang responsif, serta melakukan pendataan bagi kelompok rentan (seperti warga yang bergantung pada alat medis bertenaga listrik).
- Pengembangan Kapasitas (Solusi Akar Masalah)
Untuk jangka panjang, Pemda Tojo Una Una didorong melakukan upaya pengadaan mesin baru yang disewakan oleh PLN melalui keterlibatan Perusahaan Daerah (Perusda). Sebagai solusi pendanaan kreatif, pemanfaatan dan penjualan cadangan bijih besi di lokasi Uekuli yang belum optimal dapat dikonversi menjadi nilai ekonomis demi kesejahteraan masyarakat. Diversifikasi ke Energi Baru Terbarukan (EBT) juga sangat potensial dikembangkan, seperti:
- Sistem Hibrida & Tenaga Surya (PLTS):Memadukan panel surya, baterai, dan diesel untuk mengurangi ketergantungan solar.
- Pembangkit Tenaga Bayu (PLTB):Mengadopsi kesuksesan wilayah Jeneponto dan Sidrap agar energi surya siang hari bisa dialokasikan untuk beban puncak malam hari.
- Efisiensi Energi:Gerakan penggunaan lampu hemat energi di perkantoran dan rumah tangga untuk menekan beban tanpa membangun pembangkit baru.
Pemda Tojo Una Una diharapkan segera mengintegrasikan strategi ini ke dalam dokumen perencanaan daerah secara eksplisit, dengan mengawal masukan ke dalam RUPTL dan RUED Sulawesi Tengah yang saat ini tengah disusun oleh Bappeda Provinsi.
Langkah aktif Pemda seperti pemberian insentif PLTS atap—dimulai dengan memasang panel surya di area Kantor Bupati—serta penyediaan lahan untuk pembangkit terbarukan menjadi kunci utama tata kelola energi kolaboratif demi masa depan Tojo Una Una yang lebih terang.(H.Sam Asiku)