Berita

Catatan Sederhana Om Boby Soal Pelatihan Jurnalistik “Menulis Untuk Menyelamatkan Alam”

1200
×

Catatan Sederhana Om Boby Soal Pelatihan Jurnalistik “Menulis Untuk Menyelamatkan Alam”

Sebarkan artikel ini

Sebuah unggahan difacebook tentang tulisan yang diberi judul “Menulis atau Punah” oleh wartawan senior saya Abdi owner Media Kabar Selebes, yang rekam jejaknya didunia jurnalistik tak diragukan,  ia telah menjejakan keahliannya dibeberapa media yang dikenal dinegeri ini,  dalam kekerabatan saya  memanggilnya Om Boby.

Catatan; H.  Sam Asiku 

Catatan Om Boby menurut saya dibuat santai, karena saya memandangnya sebagai  ahli dibidangnya, sosok wartawan yang sudah berpengalaman, coretan sederhana  namun sarat dengan makna tak sekedar membangunkan tidur saya yang sudah rentah, namun bagaikan bunyi  desingan cemetik yang mengiris rasa, agar segera menyahuti ajakan itu.

Saya sangat menghormati tulisan itu, karena kehebatan Om Boby sebagai wartawan mampu merangkai suku kata menjadi kalimat estetik yang mampu menjelaskan dan mudah dipahami pembacanya.

Pernyataan yang mengetarkan, dialinea namun bukan cibiran sinis “Jurnalis itu bukan sekadar tukang catat. Bukan sekadar pemburu peristiwa. Kalau cuma itu, apa bedanya dengan mesin pencatat waktu?”

Makin menarik membaca pada alinea lainnya, Namun Pers punya tugas lebih berat: menjaga ingatan tulisnya, Itulah yang sedang digelorakan oleh AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) Sulawesi Tengah bersama Donggi Senoro LNG.

Temanya gagah: Menulis untuk Menyelamatkan Alam. Bukan main-main. Di tengah kepungan bencana yang makin rajin menyapa Indonesia, media tidak boleh lagi hanya jadi penonton. Adalah narasi yang membangunkan lamunan pewarta, pengingat jitu yang menyentuh.

“Pers harus membuka mata publik. Bahwa urusan lingkungan bukan urusan sampingan. Ini urusan nyawa.” Tegasnya.

Pelatihan Jurnalistik menulis untuk menyelamatkan alam, sangat kren yang menghadirkan narasumber kelas wahid: Didi Kasim. Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia. Orang sering memanggilnya Mas Didi.

Bagi Mas Didi, jurnalisme masa depan adalah jurnalisme yang berdampak. Terutama di tengah krisis ekologis yang datangnya diam-diam tapi mematikan. “Pers tidak hanya mencatat peristiwa. Ia menjaga ingatan,” katanya.

Filosofinya dalam sebagai pesan untuk memaintset kerja-kerja pewarta.

Bahwa selama ini, kita terjebak pada kecepatan. Siapa paling cepat memberitakan banjir, dia pemenangnya. Siapa paling duluan memotret kebakaran hutan, dia juaranya.

Mas Didi ingin mengubah cara berpikir itu.

Jurnalisme lingkungan, katanya, bukan soal adu cepat. Tapi soal adu sabar. Sabar untuk apa? Sabar menelusuri sebab.

Banjir yang datang berulang-ulang itu bukan sekadar nasib. Hutan yang habis terbakar itu bukan sekadar musibah. Itu adalah tanda ada yang retak dalam hubungan manusia dan alamnya. Retakan itulah yang harus dicari oleh jurnalis.

Di National Geographic, ada satu prinsip yang dipegang teguh: Data itu penting, tapi cerita yang bikin orang peduli.

“Saya setuju.!” Ucap om bobi.

Angka-angka tentang luas hutan yang hilang atau debit air yang naik seringkali hanya jadi statistik yang dingin. Tapi sebuah tulisan yang bagus—yang punya cerita—bisa menyentuh hati.

Menulis, pada akhirnya, adalah kerja empati.

Seorang jurnalis harus bisa membawa pembaca mendengar suara-suara yang selama ini luput dari sorotan. Suara pohon yang ditebang, suara sungai yang tercemar, atau suara warga yang kehilangan rumahnya karena abrasi.

Kalau jurnalis tidak lagi peduli pada alam, jangan kaget kalau alam juga tidak lagi peduli pada kita.

Tugas jurnalis sekarang jelas: menulis untuk menyelamatkan apa yang tersisa. Sebelum semuanya benar-benar tinggal sejarah.(Samas)FotoIstimewa