JURNALPOLRISULTENG.ID, TOJO UNA UNA – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Tojo Una-Una sukses menyelenggarakan program jaminan sosial keagamaan bertajuk Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 1448 H / 2026 M pada Kamis 25 Juni 2026.
Kegiatan berbasis kemanusiaan untuk menyambut momentum 10 Muharram ini dilaksanakan secara hybrid, berpusat di Kantor Kemenag Tojo Una-Una, dan terhubung langsung via Zoom Meeting dengan pusat kegiatan nasional di Jakarta.

Program nasional yang dilaksanakan Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam ini digelar serentak di seluruh Kantor Wilayah (Kanwil) serta Kankemenag Kabupaten/Kota se-Indonesia.
Tujuan utama gerakan ini adalah menghadirkan kebahagiaan, memberikan dukungan nyata, memperkuat kepedulian sosial terhadap anak yatim dan penyandang disabilitas di momen Tahun Baru Islam.
Kepala Kantor Kemenag Tojo Una-Una, H. Muh. Syahruddin, S.Ag, MM, menegaskan esensi dari kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian sosial sekaligus penguatan nilai-nilai kemanusiaan universal.
“Melalui program ini kita ingin menghadirkan kebahagiaan dan dukungan nyata bagi mereka. Kita memanfaatkan momen Muharram untuk menumbuhkan kembali semangat berbagi, khususnya kepada anak-anak yatim dan saudara kita penyandang disabilitas,” ucap Muh. Syahruddin dalam keterangannya.

Sebelum puncak penyaluran massal dilakukan, Kemenag Tojo Una-Una telah membuka masa pengumpulan paket sembako dari seluruh Satuan Kerja (Satker), Kantor Urusan Agama (KUA), hingga madrasah negeri di wilayah Kabupaten Tojo Una-Una sejak tanggal 22 hingga 24 Juni 2026.
Muh. Syahruddin dibagian lain penyataannya menyebut, tolok ukur keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari jumlah materi yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari tumbuhnya ekosistem gotong royong dan rasa empati yang mendalam di lingkungan masyarakat.
Ia berharap partisipasi aktif dari seluruh keluarga besar Kemenag ini mampu melahirkan keberkahan yang berkelanjutan bagi para penerima manfaat.
Dalam catatan ini, esensi dari memuliakan anak yatim dan penyandang disabilitas adalah menegakkan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan inklusivitas tanpa diskriminatif, dalam pandangan universal maupun spiritual. Kedua kelompok ini bukanlah beban sosial, melainkan amanah yang menuntut pemenuhan hak-hak dasar secara terhormat.
Program lebaran Yatim dan Disabilitas oleh kemenag menjadi salah satu bukti nyata komitmen negara dalam menghadirkan ruang inklusif bagi mereka.

Memuliakan anak yatim dan disablitas melampaui sekadar pemberian bantuan finansial atau santunan berkala, namun Fokus utamanya adalah pemulihan psikologis dan masa depan mereka.
Upaya itu akan menyentuh ruang kemanusiaan melalui tindakan empati dalam menabur harmoni sosial. Tak sebatas memadang mereka dengan rasa kasian semata, akan tetapi menyeraskan kepekaan dalam menghapus stikma itu. Pada hakekatnya mereka adalah anak bangsa yang harus mengecap rasa keadilan sosial.(H.Sam Asiku)