Memasuki masa kampanye Pilkada Tojo Una-Una 2024, alam seolah memberikan pengingat serius kepada para kandidat calon bupati dan wakil bupati. Fenomena banjir yang melanda beberapa kawasan dan ruas jalan di Kota Ampana dan sekitarnya telah menimbulkan keprihatinan masyarakat.

Catatan Sam Asiku
Kawasan Badola atau Kayu kelor tepatnya di kelurahan Muara Toba kecamatan Ratolindo, dan sebagian kawasan pemukiman di kelurahan Dondo dan Dondo Barat, Desa Sumoli serta beberapa desa lainnya yang terdampak banjir yang cukup parah.
Pemandangan yang merisaukan, melihat fenomena banjir yang mengakibatkan beberapa ruas jalan seperti jalan Tongkol, jalan Moh. Hatta, Jalan Moh Yani berubah menjadi sungai.
Yang terparah adalah jalan Tongkol dari perempatan Sumoli Bank Mandiri, luapan sungai kecil menjadi pembatas Kelurahan Dondo barat, arus air yang cukup kuat memasuki halaman bahkan menerjang rumah-rumah warga masyarakat setempat.
Diketahui kelurahan Muara Toba berada ditepian Teluk Tomini, menjadi tujuan kedatangan air sebelum melepas diri kelaut.
Akan lebih buruk lagi, manakala manakala kedatangan banjir dihadang oleh gelombang laut yang mengakibatkan rumah-rumah dipesisir pantai cukup terancam.
Ir. Zen Abdulah salah tokoh muda yang berkecimpung dibidang konstruksi di Ibu Kota provinsi Sulteng, dalam satu percakapan dengan media ini, menganalisa bahwa drainage yang dibangun saat ini., dengan kondisi topografi wilayah bukan menjadi solusi penanggulangan. Justru menjadi titik kumpul air yang mengarah pada pemukiman masyarakat yang berada pada kontur tanah yang terendah.
“Ampana butuh tanggul besar yang memotong air dibagian atas pemukiman untuk mengarahkan air ke sungai Ampana yang cukup lebar” Ujarnya dalam satu percakapan.

Malam Senin 20 Oktober 2024, kedatangan air bah yang dinilai masyarakat cukup besar, menuai banyak keluhan seperti terakumulasi dimedia sosial, jika mencermati banyak postingan masyarakat.
Banjir kiriman kali ini menyisahkan genangan dibeberapa kawasan pemukiman dan rumah masyarakat setelah titik puncak banjir berlalu.
Pasca banjir menjadi hambatan aktivitas warga, sehingga menjadi sorotan karena muncul di saat para kandidat tengah berlomba-lomba memaparkan visi dan misi mereka untuk membawa Tojo Una-Una ke arah yang lebih baik dan maju.

Masyarakat berharap, siapa pun yang terpilih nanti akan menjadikan penanggulangan banjir sebagai prioritas utama.
“Kami berharap para pemimpin terpilih nantinya segera menggerakkan potensi sumber daya manusia di Pemda Tojo Una-Una, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar banyak masyarakat yang terdampak.
Banjir di Ampana kerap kali terjadi, terutama saat musim hujan tiba. Namun, hingga kini belum ada langkah konkret yang dilakukan untuk menangani persoalan ini secara menyeluruh.
“Dibutuhkan program strategis dan komitmen yang kuat dari pemimpin daerah terpilih nanti untuk mencegah banjir, sehingga masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban.
Kampanye Pilkada ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang bagi para calon untuk berkompetisi, tetapi juga momen untuk menunjukkan kepedulian nyata terhadap masalah-masalah krusial yang dihadapi masyarakat, seperti banjir yang terus menghantui selama ini.

Dengan potensi SDM yang ada di Pemda Tojo Una-Una, khususnya di Dinas PUPR, masyarakat percaya bahwa permasalahan banjir dapat diatasi jika ditangani dengan serius dan terencana.
Idealnya pasca Banjir, dinas terkait diharapkan turun lapangan meng-inventarisir kebutuhan masyarakat dalam rangka penanggulangan.
Keberadaan dinas terpadu diharapkan dapat mengambil tindakan tepat untuk meyakinkan masyarakat yang sedang galau dilanda bencana. Seperti dinas kesehatan, Dinas Sosial dan PUPR menyertai BPBD dan pemerintah kecamatan yang terdampak perlu turun lapangan.
Banyak saran para praktisi perencanaan berpendapat, bahwa puncak banjir seharusnya menjadi titik awal perencanaan dalam mengantisipasi banjir agar tidak rutin mendera masyarakat yang mendiami Tanah Sivia Patu Kabupaten Tojo Una-Una.(Samas)
