JPSULTENG, BANGGAI – Isu ketidaknetralan Kepala Desa Gonohop, berinisial IM, dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 menjadi perbincangan utama di kalangan warga. Dugaan tersebut mencuat setelah beredarnya rekaman yang memperlihatkan keterlibatan IM dalam pembagian amplop menjelang hari pencoblosan pada 27 November 2024.
Kontroversi semakin memanas setelah Desa Gonohop menjadi salah satu wilayah yang harus menggelar Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada 5 April 2025 di Kecamatan Simpang Raya.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa selain isu pembagian amplop, kebijakan kepala desa dalam pengadaan lapangan sepak bola dengan menggunakan dana tali asih dari perusahaan tambang nikel juga menuai kritik.
“Ini sangat mengecewakan. Dana tali asih dari perusahaan malah digunakan untuk pengadaan tanah, padahal kami berharap anggaran tersebut bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar sumber tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa berbagai kebijakan kepala desa dinilai bermasalah dan tidak bisa dijadikan panutan. “Selain soal dana tali asih, dia juga merusak demokrasi dengan sikap tidak netralnya dalam Pilkada ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, narasumber yang mengaku dekat dengan kepala desa menyebutkan bahwa kondisi politik di desa tersebut kini mengalami pergeseran. Ia mengklaim bahwa banyak anggota dari kelompok pendukung pasangan calon nomor 03 kini beralih mendukung pasangan calon ATFM.
“Saya akui, termasuk teman-teman yang bersama saya saat ini, kini lebih condong ke ATFM,” katanya saat ditemani delapan rekannya.
Berdasarkan hasil penghitungan suara di dua TPS di Gonohop, pasangan calon ATFM unggul dengan selisih 110 suara atas pasangan Anti Bali. Sementara itu, pasangan nomor urut 02, Herwin-Heppy, memperoleh 159 suara.
Melihat dinamika politik yang terjadi, sejumlah konstituen ATFM optimis bahwa pada PSU mendatang, dukungan terhadap paslon nomor 01 akan semakin meningkat.
(*)