KABUPATEN TOJO UNA-UNA

Kemunculan Predator di Kepulauan Togean Berhasil Dijerat Warga Desa Wakai

635
×

Kemunculan Predator di Kepulauan Togean Berhasil Dijerat Warga Desa Wakai

Sebarkan artikel ini

JURNALPOLRISULTENG.ID – WAKAI, Diketahui beberapa peristiwa  aksi predator yang menewaskan beberapa  masyarakat diwilayah Kepulauan Togean Kabupaten Tojo Una Una, menjadi rangkaian peritiwa yang meresahkan. 

Munculnya kembali buaya dibelakang rumahnya, menarik perhatian salah satu warga masyarakat, berinisial (Y), lalu  memancing buaya itu dengan bangkai anjing. Dan  habitat yang dilindungi itu,  saat ini masih  diikat ditempat kejadian.Selasa 6 Mei 2025 sekitar pukul 12.00 wita.

Penangkapan buaya kali ini membuat sontak masyarakat, berdatangan ingin  melihat langsung, dengan tetap menjaga jarak demi keamanan.

Dan saat ini, buaya masih diamankan warga,  sambil menunggu tindakan lebih lanjut dari pihak berwenang.

Kemunculan buaya menjadi peristiwa yang menarik dan perlu kajian bagi pemangku kepentingan, mengapa predator itu keluar dari sarang, apakah terjadi ketidak seimbangan ataukah  habitat mereka terganggu akibat ulah manusia?

Beberapa peristiwa tragis serangan buaya dialami masyarakat di Kepulauan Togean.

Menurut penuturan Rahmat salah seorang tokoh masyarakat dikecamatan Una Una, pernah terjadi penyergapan buaya di desa Tobil, Korban Zainal saat ini menjabat kepala desa Tobil, berhasil meloloskan diri  kebuasan buaya itu.

Peristiwa lain terjadi di desa Benteng kecamatan Togean, yang dialami seorang pemuda yang akan kembali kedesanya,  setelah menghadiri pesta didesa Benteng, saat naik ke perahunya langsung disergap buaya. Jasad korban ditemukan besok harinya.

Penomena penyerangan buaya menghantui masyarakat yang mediami Kawasan itu.

Dijelaskan Rahmat, kemunculan  buaya didesa Wakai  itu bukan pemandang asing lagi. Kemunculan hewan buas itu, ditandai kalau ada pesta hajatan masyarakat dibermukim dipesisir pantai. “ dipicu aroma darah hewan sembelian atau Jeroan yang dibuang masyarakat.”Terangnya.

Ia menyatakan keprihatiannya,  dilema antara  ancaman buaya, dan habitat itu termasuk hewan yang dilindungi, butuh penangan,  minimal tindakan antisipatif.Ujarnya.

Sumber lain  mengharapkan Kehadiran pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) terkait dengan tugasnya melakukan konservasi, perlindungan, dan pemanfaatan kawasan serta jenis tumbuhan dan satwa liar di dalam dan di luar kawasan konservasi. Termasuk BKSDA pemegang izin penangkaran yang didasarkan peraturan pemerintah.

“ buaya yang dipancing masyarakat masih terikat mulutnya  ditempat kejadian.”Ujar sumber   prihatin.

Ia mengharapkan pihak terkait memberi solusi, minal memberi himbauan dan penerangan kepada masyarakat, terkait dengan aktifitas anak-anak yang  sering mandi dilaut.”Kemunculan predator itu sering dilihat masyarakat berjemur di pantai Pude,  salah satu destinasi wisata lokal.’ Imbuhnya.(samas)