KABUPATEN TOJO UNA-UNA

Kesepakatan memindahkan Tugu Borone Yang Sudah berdiri Hampir Setengah Abad

×

Kesepakatan memindahkan Tugu Borone Yang Sudah berdiri Hampir Setengah Abad

Sebarkan artikel ini

Langkah bijak Camat Ampana Tete Asrin Soga, S.Sos, MAP melakukan pertemuan dengan masyarakat Desa Borone Kecamatan Ampana Tete  kabupaten Tojo Una Una, dalam agenda rapat memindahkan Tugu Borone, di Kantor Desa Borone Selasa 23 September 2025.

Sumber diperoleh, historis Desa Borone yang pernah menjadi ibu Kota Kecamatan  yang didirikan Tahun 1965 dengan camat pertama Haroen Lahay, lebih awal pembangunan Tugu Borone disebut Boros Rone  pada tahun 1957, 

Catatan : H. Sam Asiku

Foto Istimewa

Tugu Borone adalah monumen yang sudah lama  berdiri disimpang empat desa   stategis karena  berada   diantara fasilitas Umum yang berada disekitarnya.

Belum diketahui motivasi pembangunan Tugu Borone dimasa lalu, apakah sebagai penanda desa atau kecamatan saat itu.

Ataukah sebagai  peringatan tanda hati-hati bagi pelintas jalan raya, saat itu  angkutan lokal masyarakat antara kabupaten masih mengunakan  Mobil Hard Top, handal dalam kondisi apapun, termasuk menyeberangi sungai yang sementara banjir.

Diketahui sejumlah sungai besar melewati Jalan trans Sulawesi, kini ada beberapa jembatan berdiri, diantaranya dua jembatan yang mengapit desa Borone, jembatan Balanggala dan Jembatan Borone. Konstruksi Jembatan Rangka baja disebut Truss Austraslia, sebetulnya adalah  jembatan Geosan, demikian sumber menulis.

Peningkatan Jalan dan penangulangan fasilitas prasarana perhubungan untuk kelancaran lalu lintas terus ditingkatkan  dari kondisi jalan berlumpur dan berbatu,  berubah menjadi jalan beraspal disebut Aspal Hotmix.

Kondisi jalan semakin memadai tergolong mulus, namun disertai konsekwensi seiring terjadinya kecelakaan lalu lintas, bahkan kecelakaan tunggal.

Kecelakaan karena kelalaian pengendara, kurang tidak hati-hati memacu kenderaan karena jalan yang mulus. Bisa jadi jalan yang  mulus  meninabobokan pengendara yang kelelahan, sehingga tertidur disaat mobil sedang melaju.

Kecelakan Tunggal yang terjadi didesa Borone tepat di Tugu Borone, sebuah mobil Daihatsu Xenia berwarna Putih berflat  DN 1304 YA, yang dikemudikan KIB (46,) sekitar pukul 03.00 wita dini hari menabrak Tugu Borone. Peristiwa itu  mengejutkan masyarakat setempat mendengar benturan keras. Laka tunggal menabrak Tugu Borone  menjadi penyebab kematian pengemudi, meninggal di RSUD Ampana pada pukul 08.00 Wita. Senin 22 September 2025.

Foto Istimewa

Peristiwa tragis itu yang menjadi kronologi pertimbangan yang mendorong pemerintah kecamatan Ampana Tete untuk melakukan musyawarah dengan masyarakat membahas agenda memindahkan Tugu Borone. Selasa 23 September 2025.

Pertemuan yang mencapai kesepakatan adanya pernyataan sikap, setuju untuk memindahkan  Tugu Borone.

Persetujuan dengan beberapa persyaratan, diantaranya permintaan kepada pemerintah pemasangan lampu penerang  didepan mesjid yang tak jauh dari tempat kecelakaan itu.

Diketahui perempatan Borone adalah tempat banyak dilewati masyarakat untuk mengakses fasilitas umum, seperti masjid, lapangan olah raga dan pusat pelayanan kesehatan dan pembelajaan masyarakat desa.

Dalam unggahan video, nampak permintaan pemasangan  marka jalan yang berfungsi untuk mengatur, mengarahkan, serta membatasi daerah kepentingan lalu lintas, untuk keselamatan dan ketertiban di jalan raya dan fasilitas, dan memberi kenyaman pada  masyarakat yang sedang beribadah   dimesjid itu.

Idealnya simpang empat itu sudah  perlu dilengkapi traffic line,  untuk  mengendalikan arus lalu lintas, meskipun belum seramai  ibu kota kabupaten.

Tugu Borone yng ketinggiannya sekitar 5 Meter berdiri sebagai penanda bahwa anda telah berada   desa Borone. Tugu itu pula sebagai sinyal, agar hati bagi pengendara saat melewati desa Borone, karena banyak pelintas diperempatan itu.

Belum diketahui alasan pendirian tugu,  karena banyak pelaku sejarah telah mendahului, diantaranya dari kalangan pemerintahan, seperti beberapa mantan pembantu bupati atau disebut Wedana,  maupun Haroen Lahay, camat pertama Ampana Tete.

Jika pemindahan Tugu Borone lahir dari kesepakatan dan persetujuan pemerintah dan masyarakat, maka  tempat bisa berpindah, namun Tugu Borone harus tetap berdiri, entah dibangun dilokasi manapun.

Kompleks Mesjid Borone cukup baik, namun pembangunan tugu kembali, namun perlu lebih tinggi dan megah  sebagai Menara Mesjid Borone, juga berdiri  sebagai icon desa Borone.

Kesepakatan pemindahan Tugu Borone adalah babakan baru sejarah yang merilis sejarah Tugu Borone yang pernah ada, bahkan  bertahan sekitar 48 tahun, hampir setengah abad lamanya.

Kedepan para generasi penerus, tinggal mendengar kisah tentang Tugu Borone, sebagai cagar budaya yang pernah berdiri megah dimasa lalu.

Banyak kisah dimasa lalu, kadang pelintas antara kabupaten harus memilih istirahat di desa Borone,  manakala sungai Borone dan Balanggala meluap.

Beberapa sungai belum dibangun jembatan, seiring  kebijakan pemerintah Kabupaten Poso waktu itu,  memindahkan ibu kota Kecamatan  Ke Desa Tete A.

Entah sudah berapa pergantian generasi terelewati, perlahan Tugu Borone mengalami perubahan,  renovasi dilakukan,  entah menggunakan  dana pemerintah seperti  ADD maupun AD, ataukah dari dana partisipasi pihak ketiga, diketahui desa Borone ada  perusahan penambangan material sungai desa Borone.

Pembentukan Kabupaten Tojo Una Una  berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 dan diresmikan pada 7 Januari 2004 adalah babakan baru dalam sejarah Negeri Sivia Patuju.

Banyak perubahan diletakan oleh bupati pertama Drs. H. Damsik Ladjalani, pembangunan infrastruktur selama 2 priode kepemimpinan bupati pertama itu. Apakah Tugu Borone, pernah disentuh dana pemerintah?

Tak lama lagi Tugu Borone akan lenyap dari pandangan, namun catatan ini pernah ada, catatan kecil menyentuh Tugu Borone dengan refrensi terbatas. (samas)