JURNALPOLRISULTENG. ID – TOUNA(SULTENG), PERJALANAN KEPUSAT KERAJAAN TOGEAN
Sam Asiku & Revino Ahmad Daniali
(Bagian 1)
Wahai kekasih Hati… berikan aku waktu yang hening, sejenak meninggalkan dirimu kumasuki dimensi lain dalam kalbu. Menulis banyak catatan yang tersisa melalui anugerah ingatanku.
Disaat itu sukmaku menembus langit untuk merangkai aksara, bait demi bait melukiskan dahsyatnya cintaNya yang hakiki…
Kawasan Kepuluan Togean
Memiliki 3 dimensi keindahan dipermukaan dan dikedalaman lautnya yang biru ada kehidupan eklusif yang menarik para penyelam untuk mendatanginya bercumbu dengan biota laut menyaksikan terumbuh karang yang tak ada duanya didunia manapun…
Kawasan yang memiliki daya pikat nan mempesona, strategi berada dilingkaran Teluk Tomini.
Satu ketika saya berbincang dengan Mantan Bupati Tojo Una-Una pertama Drs. H. Damsik Ladjalani, bahwa Teluk Tomini ibarat sibu-sibu (Alat Tangkap ikan tradisional) ikan yang masuk kedalam teluk Tomini tidak akan bisa keluar dari sana, karena dua hal, pertama dihalangi arus kuat dipintu masuk teluk dan keduanya tersedianya terumbu karang dan fasilitas layak kehidupan Ikan dan biota lainnya.
JIka ikan tidak ingin buaya dari Teluk Tomini seakan enggan keluar dari sana karena mendapat istana terumbuh karang yang cukup tersedia dan eksotis, mantap untuk beranak pinang. 
Kepulauan Togean adalah destinasi Pariwisata yang telah didatangi ribuan turis manca Negara, ada beberapa julukan unik untuk Kawasan ini. Togean adalah “A piece of heaven from the sky”, sepotong surga dari langit.
Tahun 1983 dikawasan ini pernah menjadi berita besar tentang Meletusnya Gunung Colo, yang kemudian populasi masyarakat mengungsi dan menetap dibeberapa wilayah masih dalam kawasan seperti desa Resetlemen Danda, wakai bahkan ada bermukim dieks Desa Transmigrasi Padauloyo Kecamatan Ampana Tete yang diresmikan ibu Negara Tien Soeharto.
Juga diperairan Kepulauan Togean pernah terjadi bencana yang bergaung lama, Tenggelamnya KM Wana Bakti, dan Tenggelamnya KM Nikmat ditahun tujuhpuluan.
Kepulauan Togean menyimpan berbagai kisah kelam dan indah bagi yang pernah datang disana.
Sementara politis NasDem Samsudin Pay dalam satu percakapan, Kawasan Togean adalah asset daerah Kabupaten Tojo Una-Una yang perlu dikelolah dengan professional jangan sampai terjadi kerusakan disana, kekayaan yang dimilikinya adalah anugrah dari Allah untuk hambanya. “ibarat Kayu dan batu menjadi tanaman” mengingat kembali lagu Nusantara penyanyi legendaris Yok Kuswoyo personal Koes Plus Band yang sempat Berjaya dimasa lampau.
Bagi Bupati terpilih nanti akan mewujudkan imagination sepotong surge dari langit!
Akankah berdiri megah imprastruktur berbagai Fasilitas mewah wisatawan, di Taman Wisata Bahari Kepulauan Togean, tanpa mengusik biota lautnya dan semua yang dilindungi dikawasan ini, dan gangguan kebijakan yang membuat investor angkat kaki.
Kenapa Kawasan Kepulauan Togean sangat terkenal?
Dibuktikan beberapa pelaku usaha pariwisata berasal dari Luar Negeri, seperti dulu adanya Resort Tanjung Kramat yang dikelolah Mrs. Mona yang didampingi Mr Luca dan Ibu Selvi warga Amerika pelaku pariwisata di Bomba dan masih beberapa titik destinasi yang dikelola investor local secara mandiri.
Bahkan dikawasan pernah ada budidaya Mutiara dan rumput laut, namun semua tinggal kenangan karena mungkin kebijakan jaminan keamanan, terbentur dengan kepentingan lain, sehingga terkesan tidak berpihak pada investor sehingga mereka memilih pergi dari Kawasan Kepulauan Togean. Geliat ekonomi agak melemah, karena pelaku usaha yang melibatkan masyarakat ahrus angkat kaki, berganti dengan praktek illegal fishing adalah kegiatan penangkapan ikan yang tidak sah atau melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. Namun butuh penelusuran mengapa hal itu terjadi, apakah krisis lapangan kerja sehingga masyarakat melakukan hal yang melanggar aturan.
Tentu ini menjadi PR buat pejabat Bupati baru kelak untuk menangani Kepulauan Togean dengan bijak dengan kearifan lokal jangan terabaikan.
Ancaman lain adanya buaya sudah merambah ke beberapa pemukiman masyarakat dan sudah berapa orang yang tewas diserang makhluk itu.
Ketika makhluk predator keluar dan menyerang tentu ada sebab dan akibatnya, maka PR juga buat pemerintahan baru nanti dan Lembaga terkait lainnya perlu ikut ambil bagian, dan pemda harus Welcome buat mereka kalau perlu diundang untuk memberi sumbangsih mereka.
Kunjungan wisata cukup spektakuler dibeberapa waktu yang lalu hingga redup disaat Pandemi Covid-19 sedang beraksi.
Kabupaten Tojo Una-Una sangat unik berdiri diantara wilayah Kepulauan dan Daratan adalah dua sisi mata uang, namun menjadi apik dan terkemas dalam Motto daerah Sivia Patuju.
Banyak politisi dan pelaku birokrasi berasal dari Kepulauan Togean yang berkarya di Kabupaten Tojo Una-Una.
Sehingga dalam relung batin saya berkata, mereka adalah insan manusia hebat dan cerdas apakah satu ketika akan berkarya untuk tanah kelahirannya.
Jika demikian bukan keniscayaan jika satu saat akan lahir lagi daerah otonom baru Kabupaten Konservasi Kepulauan Togean (K3T) pemekaran dari Kabupaten Tojo Una-Una dan menjadi cucu pemekaran Kabupaten Kota eboni Poso?
Memulakan Perjalan Jurnalistik “Pelayaran Kepulauan Togean”
Dua pekan yang lalu, Saya agak terlambat tiba di Pelabuhan Labuan yang dikenal Labuan Bajo, , ternyata saya adalah penumpang terakhir KM Wahyu, diatas kapal sudah menunggu Owner Media Jurnal Polri Sulteng Revino Ahmad Daniali saya menyapanya Roy.
Mantan petinju asal Manado, menjadi pegiat Pers dikota Air Luwuk sengaja datang bergabung dalam pelayaran ini.
Menurut pengakuannya adalah pertama kali ke Kawasan Kepulauan Togean menelusuri jejak leluhur isterinya Nunung Lasadam .”Lapaola Pabite” di desa Benteng kecamatan Togean kabupaten Tojo Una-Una
Empat Jam pelayaran KM Wahyu bersandar di pelabuhan Lebiti, pintu masuk kecamatan Togean, dulunya masuk wilayah kecamatan Una-Una. 
Saat kapal merapat ke Dermaga Lebiti terlihat angin tornado kecil berputar diatas permukaan tanah, menerbangkan plastic bekas kemasan.
Dermaga Lebiti adalah pelabuhan transit biasanya Kapal hanya 1 jam berlabuh bongkar muat barang dan penumpang saja.
Terkesan pelabuhan ini terbengkalai sudah beberapa tahun, dan kali ini saya saksikan beberapa rumah sudah dibongkar, bahkan pasar Lebiti aktifitas jula beli masyarakat yang tidak terawat dan informasi masyarakat setempat sudah dipindahkan, karena lokasi itu masuk wilayah otoritas pelabuhan.
Ada beberapa beberapa masyarakat menyapa saya, diantaranya Ancu yang mengeluh soal air bersih tidak jalan. “tidak ada setetes air keluar dari pipa”serunya.
Namun keterangan masyarakat yang lain menjelaskan, dibagian atas air mengalir lancar,”kalau bagian atas air lancar” Ujar Sumber.
Dari keterangan itu disimpulkan bahwa jaringan Air bersih di desa lebiti bermasalah dan perlu di maintenance.
Dalam hal ini Pemdes perlu mengkoordinasikan dengan pihak yang berkompeten, dimana air bersih adalah kebutuhan primer bagi manusia dan makhluk lainnya.
Dari percakapan singkat dengan Ancu, diketahui kondisi pelabuhan seperi itu karena rumah-rumah sudah dibongkar pemiliknya sudah dibebaskan (ganti rugi) karena masuk wilayah otoritas pelabuhan Lebiti.
Ditanyakan soal jembatan Panjang yang masih berdiri tak jauh dari pelabuhan, menurut informasi masyarakat adalah jembatan menuju kediaman Ilham Lawidu, SH politisi Partai Golkar saat ini menjabat wakil bupati Kabupaten Tojo Una-Una.
Ada beberapa percakapan berbau politik, dari soal pileg, bupati hingga calon presiden RI maintenance menurut prespektif mereka.
Dinamika percakapan yang tidak memiliki kerangka dan liar, berlalu begitu saya ketika saya naik kembali ke KM Wahyu, masih dua pelabuhan lagi yang akan disinggahi kapal ini. (Bersambung)