Peringatan Hari Ulang Tahun Tojo Una Una yang ke 22 tahun 2025, adalah momentum yang menarik perhatian para tokoh anak daerah negeri Sivia Patuju. Yang berarti perhatian itu adalah dorongan yang kuat bagi pemerintah daerah saat ini. Penanda bahwa pasangan Bupati dan Wakil Bupati, Ilham Lawidu dan Hj. Surya tidak berjuang sendiri, namun perjuangan itu menjadi perjuangan bersama, yang melibatkan seluruh komponen masyarakat Tojo Una Una.
Sebuah tulisan menarik dengan narasi apik dari Tokoh muda yang eksis didunia konstruksi, memberi buah pemikirannya sebagai kontribusi nyata buat tanah kelahirannya.
Refleksi HUT ke-22 Kabupaten Tojo Una Una
Oleh: M. Zein Badjeber/ Pemerhati Daerah
Di usia ke-22 tahun, Tojo Una Una sesungguhnya tidak kekurangan apa pun, lautnya kaya, tanahnya subur, dan alamnya diakui dunia. Namun setiap tahun, ikan segar, kelapa, jagung dan kakao berangkat lebih dulu ke luar daerah, disusul anak-anak mudanya yang mencari masa depan di tempat lain. Di tengah kekayaan yang melimpah, daerah ini menghadapi kegelisahan sederhana namun mendasar: akankah Tojo Una Una terus hidup dari menjual alamnya, atau mulai membangun manusianya agar masa depan bisa tinggal di rumah sendiri?
Data BPS tahun 2024 mencatat PDRB Kabupaten Tojo Una-Una berada di kisaran Rp7,3 triliun. Sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dan Perikanan menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi 36–39 persen, sementara dukungan APBD hanya sekitar 16 persen. Angka ini menunjukkan bahwa denyut ekonomi daerah sejatinya digerakkan oleh aktivitas masyarakat: petani, nelayan, pelaku usaha kecil, dan pekerja informal.
Secara struktural, Tojo Una-Una memiliki kluster ekonomi yang lengkap dan saling terhubung. Di laut, terdapat potensi besar ekonomi biru (blue economy) melalui perikanan tangkap dan budidaya. Di darat, sektor agro-maritim tumbuh lewat kelapa, kakao, jagung, hortikultura, biofarmaka, hingga peternakan rakyat. Di pesisir dan pulau-pulau, wisata bahari berbasis ekowisata yang berada di jantung Coral Triangle, serta kawasan Cagar Biosfer dengan biodiversitas tinggi, menyimpan peluang besar untuk berkembang secara berkelanjutan.
Namun, kekuatan ini belum sepenuhnya menjelma menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat.
Tantangan Nyata: Ketika Anak Daerah Pergi, Nilai Tambah Ikut Hilang
Hingga kini, sebagian besar hasil pertanian dan perikanan Tojo Una-Una masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Ikan segar, kelapa, jagung, kakao, dan hasil kebun lainnya lebih banyak keluar daerah tanpa diolah, sementara nilai tambah dan lapangan kerja justru tumbuh di wilayah lain.
Sementara itu, angka putus sekolah masih tinggi, dan tenaga kerja usia produktif terus bermigrasi karena minimnya peluang kerja berbasis keahlian di kampung halaman. Kondisi ini diperparah oleh belum adanya pendidikan vokasi yang secara khusus dirancang mengikuti kluster ekonomi lokal Tojo Una-Una.
Jika situasi ini dibiarkan, kekhawatiran itu menjadi nyata: kekayaan alam dikelola pihak luar, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Sekolah Vokasi: Investasi Pendidikan dan Sosial untuk Masa Depan Daerah
Di momentum ulang tahun ke-22 ini, harapan diarahkan pada satu langkah strategis: pembentukan sekolah vokasi berbasis kluster ekonomi daerah. Bukan sekadar membangun gedung pendidikan, tetapi membuka jalan hidup baru bagi generasi muda Tojo Una-Una.
Sekolah vokasi ini dirancang dengan program studi yang selaras dengan kebutuhan dan potensi daerah, antara lain:
Budidaya Perikanan Laut & Darat, Pengolahan Hasil Perikanan & Cold Chain, Hilirisasi Produk Pertanian & Perkebunan, Peternakan Terpadu, Manajemen Destinasi Pariwisata Bahari berbasis Ekowisata.
Rasionalisasinya jelas: pendidikan vokasi ini menjadi intervensi strategis untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang mampu mengolah sumber daya alam sendiri, dari ikan hingga hasil kebun.
Dari Daerah Penghasil ke Daerah Pengolah
Harapannya tegas: Tojo Una-Una tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah penghasil, tetapi juga daerah pengolah dan pengelola. Produk lokal diolah untuk mengisi kebutuhan pasar regional, sekaligus menahan laju migrasi tenaga kerja. Anak muda tidak lagi sekadar menjadi pencari kerja, tetapi juga pelaku usaha dan penggerak ekonomi lokal, termasuk dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis konservasi.
Lebih jauh, kehadiran sekolah vokasi akan memperkuat dukungan terhadap program nasional, seperti ketahanan pangan, Kampung Nelayan Merah Putih, serta pembangunan berkelanjutan di kawasan cagar biosfer dengan prinsip ekonomi biru.
Dengan tenaga kerja terampil dan industri hilir yang berkembang, pendapatan masyarakat meningkat, dan nilai keekonomian daerah naik signifikan, bermuara pada satu tujuan besar: peningkatan PDRB dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan link-and-match antara pendidikan vokasi dan industri lokal, Tojo Una-Una memiliki peluang nyata mencatat pertumbuhan ekonomi signifikan dalam 5–10 tahun mendatang. PDRB tidak hanya tumbuh di atas kertas, tetapi terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di usia 22 tahun ini, Tojo Una-Una menghadapi pilihan penting: terus mengirim bahan mentah dan tenaga kerja ke luar, atau mulai membangun kekuatan dari dalam: dari lautnya, dari tanahnya, dan terutama dari manusianya sendiri.
Tojo Una-Una sudah kaya sejak lahir. Kini tantangannya adalah memastikan kekayaan itu benar-benar menjadi milik dan masa depan masyarakatnya.
Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Dirgahayu ke-22 Kabupaten Tojo Una Una.(Red)