JURNALPOLRISULTENG.ID- SULAWESI TENGAH, Banyak cara menadahkan doa untuk mereka yang sedang menyempurnakan Hajinya di Tanah Haram. Diteras senja Jamaah kloter 9,10, dan 11 BPN, diantaranya jamaah dari negeri Sivia Patuju Tojo Una Una, sudah berada di tenda Arafah untuk bersiap wukuf besok, Selasa, 26 Mei 2026/ 9 Zulhijjah 1447.
Ujung petang hari ini Senin 25 Mei 2026/ 8 Zulhijah 1447 H. menjadi saksi akan sebuah coretan melintas alam pikir seorang lelaki, tersentuh oleh keghaiban Arafah. Langam dan rilis akan kata kalbi, syarat makna akan kerinduan…kerinduan yang begitu syahdu melanglang buana hingga menyentuh langit… menyentuh hati lewat untaian kata dan sangat puisitis penuh kelembutan, mampu mempermainkan rasa dan air mata, betapa buah imajinasi itu sangat menginspirasi, lelaki itu adalah sahabatku Yusup Dumo

Catatan : Yusuf Dumo
Fajar belum benar-benar lahir, tetapi langit sudah menyimpan tanda-tanda keheningan yang ganjil. Seolah waktu menahan napas.
Di lorong-lorong hotel sederhana itu, langkah-langkah pelan mulai terdengar. Bukan langkah tergesa melainkan langkah yang penuh kesadaran: bahwa hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah awal dari puncak. Hari ini adalah panggilan menuju Armuzna.
Rombongan jamaah haji asal Tojo Una-Una bergerak perlahan.
Putih kain ihram mereka tampak sederhana, tetapi di baliknya tersimpan perjalanan panjang yang tak kasat mata perjalanan luka, sabar, dan harap.
Ada tangan yang gemetar saat menggenggam tas kecil.
Ada mata yang berkaca-kaca tanpa sebab yang bisa dijelaskan.
Ada dada yang sesak bukan karena lelah, tapi karena sadar: mungkin inilah jarak terdekat antara manusia dan Tuhannya.
Tubuh yang Rapuh, Iman yang Tegak.
Di antara rombongan itu, seorang lelaki tua berjalan tertatih. Usianya telah mengikis kekuatan tubuhnya, tetapi tidak dengan tekadnya.
Setiap langkahnya seperti dialog sunyi dengan langit.
Ia tidak banyak bicara.
Hanya sesekali bibirnya bergerak, melafalkan sesuatu yang bahkan angin pun tak sanggup membawanya pergi.
Mungkin doa…Mungkin penyesalan, bisa jadi keduanya
Di belakangnya, seorang ibu menggenggam botol air dengan erat, seolah itu bukan sekadar air, tetapi sisa tenaga yang harus dijaga hingga Arafah.
Tak ada yang benar-benar kuat di sini.
Yang ada hanya mereka yang memilih untuk tetap berjalan.
Dari Tanah Jauh, Membawa Segala yang Tak Selesai
Perjalanan ini tidak dimulai di Makkah.
Ia dimulai dari rumah-rumah sederhana di Ampana, di Ulubongka, di Tojo bahkan Kepulauan Togean.
Dari pelukan anak yang enggan melepas.
Dari tangis yang disembunyikan agar tak menghalangi langkah.
Ada yang meninggalkan keluarga dalam keadaan sulit.
Ada yang datang dengan tubuh sakit, tetapi hati yang bulat.
Mereka tidak datang sebagai manusia yang sempurna.
Mereka datang sebagai manusia yang penuh kekurangan.
Dan justru karena itu, mereka datang.
Armuzna: Saat Segala Topeng Runtuh
Armuzna bukan sekadar tempat.
Ia adalah cermin.
Di Arafah nanti, tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi gelar, tidak ada lagi kebanggaan dunia.
Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang pasrah di hadapan Tuhannya, dengan segala dosa yang tak bisa disembunyikan.
Di Muzdalifah, mereka akan tidur di tanah terbuka, beralaskan langit.
Belajar bahwa manusia, pada akhirnya, kembali menjadi sangat kecil.
Di Mina, mereka akan melempar jumrah seolah melempar semua kesombongan, semua amarah, semua dosa yang selama ini diam-diam dipelihara.
Dan di setiap lemparan itu, ada harapan: agar yang jatuh bukan hanya batu tetapi juga beban hidup.
Air Mata yang Tidak Butuh Saksi.
Tak semua tangis harus terdengar.
Tak semua doa harus diucapkan keras.
Di antara langkah menuju Armuzna itu, banyak air mata jatuh diam-diam.
Menyusup di sela dzikir.
Mengalir tanpa ingin dilihat siapa pun.
Karena di tempat ini, manusia akhirnya mengerti bahwa yang paling jujur dari dirinya adalah saat ia sendirian dengan Tuhan.
Jika Ini yang Terakhir…
Tak ada yang tahu apakah mereka akan kembali.
Karena perjalanan ini, bagi sebagian orang, adalah panggilan yang datang sekali seumur hidup dan mungkin, menjadi yang terakhir.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Mereka berjalan bukan karena yakin akan pulang,
tetapi karena yakin bahwa Tuhan sedang menunggu.
Dan di antara langkah-langkah yang semakin mendekat ke Armuzna, terselip satu kalimat yang tak pernah berubah:
“Ya Allah… kami datang dengan tangan kosong.
Jangan pulangkan kami dengan hati yang tetap kosong.”

Hari ini para jemaah Calon Haji tiba di Arafah mengisi tenda-tenda dipadang yang luas, menunaikan rangkaian ibadah kehajian, semoga mereka akan kembali ketanah air sebagai haji Yang Mabrur. (samas)