JURNALPOLRISULTENG.ID-TOUNA, Sabtu 21 Oktober 2023, Tokoh Pers Sulawesi Tengah, Kamil Badrun, melalui Podcast kabar 68 pada dialog interaktif dengan Samsurijal Labatjo, secara gamblang mengali potensi calon bupati itu.
Menurut Kamil Badrun, kepiawaian peminpin daerah, harus mampu mengelolola dan memanfaatkan potensi Sumber daya Alam untuk kesejateraan masyarakat.
Menjawab soal itu, Samsurijal Labatjo sebagai tokoh kabupaten Tojo Una-Una sangat memahami kondisi tanah kelahirannya.

Betapa Ijal sapaannya, pernah berkiprah diberbagai dimensi profesi, baik bidang konstruksi dan media dan peran lainnya, bahkan pernah memimpin Lembaga legislative, sebagai ketua DPRD Tojo Una-Una, beberapa tahun lampau.
Sengatan pertanyaan Tokoh Pers sekelas Kamil Badun, mampu mengelitik nalar, sehingga mengalirlah konsep pemikiraan Ijal.
Menurutnya banyak sektor yang perlu diorbitkan sebagai sumber PAD, sejalan dengan pembedayaan ekonomi masyarakat. diketahui potensi sumber daya alam sangat tersedia didaerah yang digelar “Sivia Patuju”
Namun salah satu gagasannya lebih cendrung pada soal pertanian yang banyak dilakoni masyarakat didaerah itu.
Menurutnya Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi cukup besar dalam pembangunan perekonomian.
Karena semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah, maka tingkat pendapatan masyarakat ikut meningkat.
Pengembangan sektor pertanian dapat menjadi tulang punggung ekonomi di Tojo Una-Una ke depan.
Karena jika petani bangkit maka akan mampu menghadirkan kemandirian dan ketahanan pangan, stabilitas harga, penciptaan tenaga kerja, serta meningkatkan daya beli masyarakat.
Ijal memahami kondisi petani yang monoton, hidup dalam keterbatasan yang memprihatinkan.
Petani jagung yang ada diTojo Una-Una terlilit hutang dengan sistim ijon, terperangkap kebutuhan hidup dan biaya penanaman hingga panen sangat mahal, jika dibanding dengan perolehan harga hasil penen mereka.
Seharusnya ketergantungan itu butuh solusi, jika ada keseriusan pemerintah daerah untuk mencetuskan program yang lebih berpihak pada masyarakat.
Program pemberdayaan petani yang dialokasikan pada kelompok itu, sangat rentan karena tidak menyentuh dan tidak menyelesaikan persoalan. Ungkapnya.
“Sistim ini harus dirobah, kita perlu menghidupkan instrument yang terkontrol” Ujarnya
Mulai dari penyediaan bibit, pupuk dan sarana pertanian seperti traktor bajak, tidak bisa lagi kita serahkan ke kelompok tani lagi, karena menurut pengamatan kami selama ini bantuan yang diberikan kepada kelompok tani tapi tidak tepat sasaran. Sehingga sistem itu akan kami rubah. Semua peralatan, bibit dan pupuk harus di tampung di kantor PPL di kecamatan, dan bantuan traktor dan pupuk tersebut hanya akan di berikan kepada petani yang menggarap lahannya secara gratis. dan untuk membantu menjalankan dan mengawasi program ini kita harus rekrut tenaga PPL pertanian yang akan di tempatkan di setiap kecamatan. Karena
PPL merupakan ujung tombak dari dinas pertanian dan perkebunan untuk mewujudkan masyarakat yang berswasembada pangan dan mandiri.
Hal ini menurutnya sangat penting untuk memutus mata rantai kekuasan yang menelantarkan hidup petani.
Akan tetapi konsep itu, membutuhkan data akurat yang mengakomodir seluruh petani yang ada dikecamatan-kecamatan, dalam penataan sistim nanti.
Pemerintah daerah melalui perusahan daerah akan berkerja sama dengan pemerintah desa dalam menghidupkan bumdes di setiap desa.
Modal kerja petani itu dikucurkan lewat Perusahan daerah dengan sistim pinjaman modal kerja tanpa bunga sehingga harga hasil penen dapat dirasakan petani.
Jaminan harga komoditi tidak lagi tergantung pada kuantitas hasil petani, karena kestabilan harga itu terkontrol melalui sistim intrumen yang kita tarapkan.
Hal ini menjadi semangat baru bagi petani, sehingga mereka akan meningkatkan hasil pertanian, termasuk membuka lahan tidur yang ada.
Urusan managemen pemasaran itu ditangani perusahan daerah.
Sehingga hasil produksi dan biaya produksi dan penjulan hasil tidak lagi terjebak pada sistim ijon yang menelantarkan kehidupan petani, yang seharusnya dengan ketersediaan lahan memberi mereka peluang hidup yang sejahtera. (Ditulis Sam Asiku)