Sosbud

PERJALANAN Ke Pusat KERAJAAN TOGEAN Sam Asiku & Revino Ahmad Daniali (Bagian Terakhir)

2674
×

PERJALANAN Ke Pusat KERAJAAN TOGEAN Sam Asiku & Revino Ahmad Daniali (Bagian Terakhir)

Sebarkan artikel ini

JURNALPOLRISULTENG.ID – TOUNA, Menuju Dermaga terakhir Desa Benteng

Sebentar saja kapal bersandar di dermaga Bungayo, juru mudi mengarahkan haluan kapal kembali kecepatan sedang 25 menit lagi akan tiba di Desa Benteng.

Di Kejauhan terlihat desa kabalutan, desa yang dihuni ribuan manusia, penduduk di desa ini didominasi suku Bajo.

Sumber desa pesona Indonesia merilis, desa Kabalutan merupakan Desa yang terletak di wilayah Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-Una.

Wilayah ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean Provinsi Sulawesi Tengah.

Desa Kabalutan terkenal dengan Masyarakat budaya suku bajoe (seagypsie) yang tangguh dalam mengarungi lautan.

Cerita-cerita budaya Masyarakat bajo di Kepulauan Togean sangat menarik untuk diangkat atau promosikan dan di jadikan daya tarik wisata.

Selain keragaman budayanya, landskap Desa Wisata Pulau Kabalutan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Jajaran pulau-pulau kecil dan bukit kartu melengkapi keindahan wilayah Desa Kabalutan yang menjadi idaman para tamu mancanegara dan wisatawan lokal.

Dua puluh menit pelayaran Pelabuhan Benteng belum terlihat, terhalang beberapa gugusan pulau, desa itu ditandai dengan gunung Benteng yang menjulang tinggi membentuk sepasang belahan dada.

Asal menebak saja, mungkin dinamakan banteng karena letak geografinya sangat strategis untuk tempat berlindung dimasa perang Tobelo.

Butuh waktu 10 menit lagi membelah ke teluk desa Benteng, airnya sangat tenang dikelilingi tumbuhan bakau.

KM Wahyu merapat di dermaga yang Nampak sepi, hanya beberapa orang duduk menunggu kedatangan kapal.Dua unit sepeda motor siap menunggu dan akan membawah kami ke kaki gunung Benteng.

Sumber tempo.co merilis, pertemuan gunung-gunung bawah laut itu membuat Togean menyimpang empat jenis karang yang tak terdapat di laut mana pun di dunia, seperti atol, karang benteng, karang tepi, dan karang tompok.

Ban motor yang saya kendarai tidak nyaman bersentuhan dengan rabat benton tumbuk yang sudah lama tidak di sentuh anggaran perbaikan.

Disisi kiri jalan beton itu beberapa bocah kecil sedang bercanda di kebiruan air laut Desa Benteng.

Hanya sekitar 400 meter saya dengan Roi tiba dirumah tujuan milik sepasang suami istri Ahmad dan Mila.

Kultur tanah disekitar rumah itu agak miring, dua sekolah SD dan madrasah Alkhairaat tepat didepan rumah hanya dibatasi lapangan Bola kaki.

Disamping rumah berdiri Tower untuk jaringan 4G namun belum berfungsi sejak berdiri.

Dirumah itu sudah menunggu tokoh masyarakat pensiunan guru bapak H. Nasir Uka diusianya delapan puluhan masih nampak segar.

Kepada sepuh kepulauan Togean itu Roi melontarkan pertanyaan tentang leluhur isterinya Lapaola Pabite. H. Nasir Uka, yang membenarkan tentang keluarga itu dan diakuinya masih kerabatnya.

Ia menunjukan tempat kuburan keluarga Lapaola Pabite ditepi jalan setapak yang barusan kami lintasi.

H. Nasir Uka menuturkan asal muasal kerajaan Benteng, Pada abad ke 16, terjadi perang tobelo maluku, pembuktian sejarah itu adanya makam Abdul Fatah Ali Nusa adik Sultan Tidore.

Sebelum ada sebutan kerajaan banteng disebut Lipu banteng dipimpin kolongian Sari Buah, atau disebut Sari Buana.

Perang dolominon abad abat ke 16 saat pemerintahan Sri Manurung Nurul Gamar.

Pusat Kerajaan Benteng pindah ke Una-Una

“Itu ulah penjajah belanda memecah belah untuk melemahkan kerajaan banteng yang sulit ditaklukan di zaman itu. Ujarnya Nasir uka dengan suara meninggi.

Sebutan Togean seharusnya Togian artinya Togoia, jelas H. Nasir Uka.Sementara sumber Mongabay situs berita lingkungan menulis, tak banyak yang tahu kalau pusat sejarah Togian berada di Desa Benteng.

Desa ini memiliki gunung yang diklaim sebagai gunung tertinggi di seluruh Kepulauan Togian. Gunung ini kemudian disebut sebagai Gunung Keramat.

Banyak Kuburan tua dengan ukuran panjang mulai dari 7 hingga 15 meter ada di puncak gunung ini. Bahkan ada beberapa pecahan piring beraksara Tiongkok.

“Sebab nenek moyang orang Togian yang ada di seluruh kepulauan ini berasal dari Benteng, dari Gunung Keramat Benteng,” kata Rusli L Andi Ahmad, tetua adat di Desa Benteng.

Dalam cerita legenda masyarakat adat Togian, manusia yang pertama mendiami Kepulauan Togean berasal dari titisan langit atau kayangan turun melalui titian pelangi.

Kemudian turun ke bumi di atas dataran Gunung Benteng dan menjelma menjadi manusia.

Jumlah mereka tujuh orang yakni; Datu Yangi (laki-laki), Datu Raowa (laki-laki), Datu Lingaut (laki-laki), Datu Mbuya (perempuan), Datu Raeyo (perempuan), Datu Ntana (laki-laki), Datu Ntundengi (Perempuan).

Sebagai pimpinan adalah Datu Yangi. Kemudian ia mengambil kesimpulan untuk menikahkan Datu Raowa dengan Datu Raeyo, Datu Lingaut dengan Datu Mbuya, serta Datu Ntana dengan Datu Ntundengi.

Ketiga pasangan suami istri inilah yang dipercaya menjadi asal mula nenek moyang orang-orang di Kepulauan Togian.

Mereka menetap di puncak Gunung Benteng. Setelah beranak pinak, mereka turun ke dataran rendah, mencari tepi pantai membangun permukiman agar mudah mencari ikan.

Dalam bahasa Togian, mereka disebut Manurung yang artinya manusia dari kayangan.

Mereka kemudian berdiaspora ke sepanjang pulau-pulau di Togian, mencari hidup dan mengelola sumber daya alam baik di darat maupun di laut.

“Nah, orang-orang suku asli Togian yang tersebar di pulau-pulau ini semuanya berasal dari Benteng,” tegas Rusli lagi.

Setelah menetap di daerah ketinggian di Gunung Benteng dan dataran rendah di kepulauan, mereka mulai mengenal bentuk pemerintahan.

Raja pertama yang memimpin kerajaan Togian, perempuan bernama Sari Buah.

Ketika Sari Buah menjadi raja, Togian didatangi Belanda pada abad ke-18.Pada akhir pemerintahan Raja Sari Buah, orang Bugis datang sekitar 1790 menggunakan perahu layar besar.

Mereka ingin hidup berdampingan dengan masyarakat Togian, setelah itu, pada 1835, orang-orang Bajo masuk ke Togian.

Dua etnis tersebut diharuskan mentaati perintah raja beserta hukum adat yang berlaku saat itu.

Rusli menuturkan, saat ini, masyarakat yang mendiami gugusan Kepulauan Togian bukanlah orang asli. Mereka telah kawin dengan para pendatang, seperti dari suku Gorontalo, Saluan, Manado, dan sebagainya.

Dari beberapa sumber yang diperoleh dan berdasarkan penuturan H. Nasir Uka, Roy menjadi ole-ole buat isteri Nunung Lasadam dan keluarga besarnya di Pagimana dan kota Luwuk Kabupaten Banggai.

Roy berjanji akan datang lagi Bersama isteri dan keluarganya.

Perjalan ini menyadarkan saya, bahwa banyak suku dan bahasa yang terangkum dalam budaya Indonesia, adalah asset kekayaan Nusantara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (Selesai)