INFORMASI PERJALANAN HAJI TOJO UNA UNA

Rindu di Tanah Sivia Patuju: Menanti Kepulangan 57 Jemaah Haji Tojo Una-Una

578
×

Rindu di Tanah Sivia Patuju: Menanti Kepulangan 57 Jemaah Haji Tojo Una-Una

Sebarkan artikel ini

H. Sudirman : Seluruh Jemaah Tojo Una Una dalam keadaan sehat walafiat

JURNALPOLRISULTENG.ID, PALU – Langit di Kabupaten Tojo Una-Una belum benar-benar terang ketika kabar itu mulai beredar dari mulut ke mulut di Kota Ampana. Pesan singkat, panggilan telepon, hingga doa-doa yang dipanjatkan sejak selepas subuh, semuanya bermuara pada satu harapan yang sama: mereka akan segera pulang.

Oleh : Yusuf Dumo

Sebanyak 57 jemaah haji asal Kabupaten Tojo Una-Una kini tengah menapaki perjalanan panjang kembali ke tanah air. Dari Tanah Suci, mereka terbang meninggalkan jejak ibadah di bawah langit Arab Saudi. Pesawat lepas landas dari  Bandar Udara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz, membawa pulang rindu yang selama ini tertahan.

Perjalanan Batin yang Panjang

Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat. Ini adalah perjalanan batin antara harap dan cemas, serta antara syukur dan haru yang tak terbendung.

Di Tanah Sivia Patuju, Ampana, keluarga menunggu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada ibu yang setiap hari memandangi pintu rumah, seolah-olah sosok yang dirindukan akan muncul tiba-tiba. Ada pula anak-anak yang mulai menghitung hari, bahkan jam, sejak kabar kepulangan itu diterima.

“Sudah tidak sabar, tapi juga deg-degan. Kami hanya ingin mereka pulang dengan selamat,” ujar salah satu anggota keluarga jemaah dengan mata yang berkaca-kaca.

Rute Panjang dan Jadwal yang Tertunda

Dari udara, pesawat jet milik maskapai Garuda Indonesia yang membawa para jemaah mendarat terlebih dahulu di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Di Debarkasi Balikpapan ini, para jemaah diterima secara resmi oleh Pemerintah Indonesia.

Ada jeda dan transit yang seolah menguji kesabaran semua pihak—baik mereka yang pulang, maupun mereka yang menanti. Setelah itu, jemaah kembali diterbangkan menuju Bandara Mutiara SIS Al-Jufri di Kota Palu. Setiap mil tempuh pesawat mendekatkan mereka pada pelukan keluarga.

Namun, kepulangan sempat diuji oleh perubahan jadwal. Berdasarkan informasi dari Imran Tabuhu, S.Sos staf  Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Tojo Una-Una yang berada di Palu, pesawat yang membawa jemaah sempat mengalami keterlambatan (delay).

“Dijadwalkan tiba di Bandara Udara SIS Al-Jufri pukul 14.00 WITA, namun pesawat mengalami delay,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Meski demikian, setelah mendarat di Palu, jemaah haji langsung menerima sambutan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Sesuai agenda, setelah makan malam di Rumah Makan Toraranga, Parigi, rombongan akan langsung melanjutkan perjalanan darat menuju Ampana.

Penantian di Ujung Jalan Trans Sulawesi

Perjalanan darat sejauh ratusan kilometer membelah Jalur Trans Sulawesi kini menjadi saksi bisu penantian penuh harap. Di sepanjang jalan, doa-doa tak putus dipanjatkan. Perjalanan panjang, kelelahan fisik, dan usia sebagian jemaah yang tidak lagi muda sempat memicu kecemasan nyata. Namun di atas semuanya, ada keyakinan besar bahwa Tuhan akan menjaga mereka hingga tiba di rumah.

Pemerintah Daerah Kabupaten Tojo Una-Una sendiri telah menjadwalkan penyambutan resmi pada Senin, 22 Juni 2026, pukul 09.00 WITA, bertempat di Masjid Tsamaratul Ukhuwah, Kecamatan Ratolindo.

Ketika nanti rombongan itu benar-benar menginjakkan kaki di Ampana, bukan hanya langkah kaki yang disambut. Akan ada pelukan panjang yang tertunda, air mata kebahagiaan yang jatuh tanpa bisa ditahan, serta ucapan syukur yang menggema di setiap sudut ruang. Kepulangan ini adalah puncak dari rindu yang dipelihara dengan doa.

Catatan Kehilangan di Tanah Suci

Meskipun kebahagiaan menyeruak bagi jemaah 57 JEMAH yang kembali, terselip pula kisah pilu dan kepasrahan yang mendalam. Di balik kepulangan 57 jemaah ini, ada sebagian jemaah lain yang tak ikut pulang—mereka yang langkahnya terhenti selamanya di Makkah maupun di Madina bahkan dalam perjalanan pulang ketanah air.

Keluarga yang ditinggalkan harus menyimpan kepedihan yang berat. Namun, keikhlasan dan ketabahan menjadi penguat, karena keyakinan bahwa Allah SWT telah memanggil jiwa-jiwa tersebut untuk pulang ke haribaan-Nya dalam keadaan terbaik; setelah menjadi tamu selama 40 hari di Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawarah. (tim)