Dikatakan Direktur Perdam Uentanah Ampana, Mukmin Syah Latjuba, SE bahwa Air bersih yang dalam pengelolaan PDAM tak semudah membendung sungai kecil, agar kecil air dapat dialirkan kesawah.
Namun Aliran air bersih tiba rumah konsumen melalui proses panjang yang dimulai dari Intake, jebakan air sungai dialirkan melewati Instalasi Pengolahan Air (IPA) (WTP) untuk dibersihkan, sehingga layak yang dikomsumsi (treated water). Kemudian ditampung di reservois untuk menghilangkan kotoran, kontaminan, mikroorganisme, dan bahan kimia, sehingga aman untuk diminum, penggunaan industri, atau pelepasan ke lingkungan, melalui pipa distribusi.
Ia membenarkan pasokan air ke rumah-rumah pelanggan tergantung pada situasi alam, di musim hujan distribusi normal, namun musim panas kadang aliran air dikran pelanggan sangat kecil bahkan tak menetes. sehingga perlu dilakukan langkah antisipatif.
Laporan : H. Sam Asiku
Lebih Jauh Mukmin Syah Latjuba menjelaskan, tahapan dan system pendistribusian air bersih dari intake, adalah Struktur awal untuk mengambil air dari sumbernya sungai, yang dilengkapi penyaring (screen bar) untuk menyaring kotoran besar.
Pada tahapan penampungan Air bersih hasil olahan disimpan dalam reservoir yang kemudian produksi sebagai air yang siap pakai, akan dialirkan melalui jaringan Pipa Distribusi.
Mukmin Syah Latjuba, SE menandaskan meskipun Kondisi intake yang terawat, namun tak ditunjang debit air yang memadai adalah hambatan berkurangnya kapasitas produksi air bersih yang menjadi konsumsi masyarakat.
Ia mencontohkan musim kemarau hingga memasuki bulan ke empat pada Februari 2026, melanda sebagaian daerah bahkan mengancam ketersediaan air bersih termasuk di kota Ampana.

Debit Air Sungai Kajuowu berkurang dimusim kemarau
Aliran air kerumah pelanggan Perdam Uentanah sangat lemah bahkan ada yang tak lagi setetes Air keluar dari kran.
Menghadapi kondisi tersebut pihak Perdam Uentanah Tojo Una Una, melakukan tindakan antisipatif mensuplay air bersih dengan mobil Tangki ke rumah-rumah pelanggan.
”Pendistribusian air bersih agak terganggu akibat musim kemarau panjang sehingga menurunnya debit Air di dua Intake PDAM Ampana, Kajuowu dan Saluaba adalah situasional musim kemarau. Ungkap Mukmin saat dimintai keterangan.
“Untuk sementara kami bisa lega karena dua hari terkhir turun hujan lebat yang ikut mempengaruhi debit air di Intake meskipun belum maksimal” Ujarnya. Jumat 20 Februari 2026.
Sementara Pengelolah teknis Perdam Uentanah Ampana Erwin Latana, yang dimintai keterangannya mengungkap bahwa sumber air Intake Kajuowu dan Intek Saluaba tergantung pada sungai Kajuowu, Sungai Ampana serta Sungai Batang Kume, yang juga menjadi jaringan bendungan PLTM Ampana.
Distribusi intake Kajuowu adalah jaringan lama yang sering rusak karena dimakan usia, yang melayani konsumen di Jalan A. Yani, Jln Hasanudin.
Sedang Intake Salaba untuk jalur distribusi kedesa Saluaba, Bonerato, jln Berigin, kelurahan Malotong, Desa Sabulira, Desa Sumoli, Jalan Delima dan seluruh perumahan BTN di dalam Kota Ampana.
Erwin Latana menjelaskan, seharusnya tekanan air normalnya 40 sampai 60 liter per detik, namun dimusim kemarau terjadi debit air hingga terjadi penurunan tekanan air menjadi 10 hingga 15 liter/detik. “sehingga pendistribusian air melemah dan dilakukan secara bergilir.” Ujarnya.

Laporan Erwin Latana, Kondisi hujan kemarin air sudah memasuki intake Saluaba namun belum maksimal
Ia menjelaskan bahan baku air Perdam Uentanah Ampana, sangat tergantung pada kondisi sungai Kajuowuda, Sungai Ampana serta Sungai Batang Kume yang juga adalah jaringan bendungan PLTM yang saat ini tidak beroprasi. “Alhamdulillah dengan turunnya hujan kemarin, kedua intake yang ada terisi, meskipun belum maksimal” Ujarnya.
Ia menyatakan kekuatirannya, dengan kondisi wilayah dua intake PDAM Ampana, urgen menjadi perhatian semua pihak, terkait pembatasan pembukaan lahan perkebunan yang ikut mempengaruhi daya resapan air, adanya pembabatan hutan disekitar intake.
“OPD terkait dalam hal ini dinas PUPR Tojo Una Una, perlu memperhatikan Check Dam disekitar Intake yang sudah tertimbun material.” Ujarnya.
Senada dengan pernyataan Ambar Subekti, S.Hut, MP Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) KPH Ia menjelaskan dengan melihat perkembangan beberapa minggu ini, khususnya di wilayah Ampana debit air PDAM mengalami tekanan air rendah hingga terjadi keterlambatan aliran, menurutnya salah satu faktor penyebabnya adalah kemarau yang melanda Kabupaten Tojo Una Una sehingga debit air di beberapa DAS dan SUB DAS mengalami menurunan. Senin 23 Januari 2026.
Di wilayah Desa Sansarino dan Saluaba terdapat Intake pengolahan dan pelayanan air minum milik pemerintah daerah, di mana struktur intake berfungsi sebagai tempat pengambilan air baku pertama dari sumber air sungai Ampana sebelum diproses.
Ia menghimbau masyarakat, agar tetap mempertahankan wilayah-wilayah Catchment area (daerah resapan air) dan bantaran sungai di tepi sungai yang berfungsi sebagai zona penyangga ekosistem, ruang untuk aliran air saat banjir, serta area perlindungan dari erosi dan pencemaran. “saya mengharapkan masyarakat agar tidak melakukan penebangan pohon atau pembukaan hutan di sekitar sungai, untuk tetap mempertahankan wilayah catchment area yang dimanfaatkan melalui jasa lingkungan oleh PDAM Ampana.” Himbau Ambar Subakti. (samas)