Tokoh birokrasi yang paripurna, Politisi yang handal di Sulawesi Tengah adalah Drs H. Damsik Ladjalani, mantan bupati selama 11 Tahun memimpin ketika Kabupaten Tojo Una Una meraih otonom daerah berpisah dengan kabupaten Induk Poso, kabupaten Tertua di Provinsi Sulawesi Tengah.
Kepemipinannya diawali sebagai karteker dan bupati 2 priode didampingi 2 wakil bupati Drs Ridwan Dj Saru dan H. Jamal Djuraedjo S.Sos, M.Si.
Dan Sejarah menoreh sebuah capaian diblantika perpolitikan, kolaborasi Damsik Ladjalani dengan politisi kawakan Masri DJ.Latinapa mampu mengisi Kursi Golkar di Lembaga Legislatif dengan jumlah signifikan 11 Kursi dan 7 Kursi waktu itu.
Catatan Inspiratif sang Tokoh oleh : H. Sam Asiku
Pada pertemuan diminggu pagi diselah kegiatan pesta akad nikah kemenaknnya Dewi yang dihadiri banyak masyarakat dan pejabat. Sebuah pertanyaan diarahkan kepadanya apakah memungkinkan daerah ini yang pernah menyandang daerah tertinggal dan memiliki masyarakat ekstrim untuk meraih Adipura?
Politisi senior diusianya senja 77 tahun bijak berkata, bahwa Adipura adalah hal yang mudah diperoleh, sepanjang presepsi yang sama terbangun antara pemerintah daerah dan seluruh masyarakat, sepakat dalam komitemen untuk menatah dan membersihkan lingkunganya. “Kunci Adipura adalah kebersihan dan keindahan lingkungan yang tertata baik” Ujarnya serius.
Ia menekankan soal kemiskinan dan daerah tertinggal bukan menjadi poin yang dipersyaratkan, justru daerah tertinggal yang dikategorikan memiliki rakyat miskin ekstrim, merupakan momen dan strategi yang menguntungkan.
Tudingan buruk itu jadikan penyemangat, daya dorong yang kuat untuk membuktikan diri, bahwa kita tidak hanya tinggal diam, tetapi mampu berbuat serta mampu membawah daerahini lebih maju kedepan.Ujarnya bijak.
Dikatakan Damsik Ladjalani, daerah ini sudah memiliki inprakstruktur yang memadai yang ditunjang banyak potensi serta sumber alam yang dapat diandalkan, untuk menggerakan program yang diusung Pemerindah Daerah yang tertuang dalam visi misinya.
Jangan ada lagi pimpinan OPD dan para Camat, Lurah dan kepala desa yang berlama-lama dalam ruang kerjanya. “mereka harus turun lapangan melakukan pemantauan serta mengarahkan masyarakat, fokus pada tujuan satu tujuan program prioritas dan strategi pemimpin daerah ini” Suport Damasim Ladjalani.
Betapa Damsik Ladjanlani, tidak hanya berkata, namun telah membuktikan karya gemilangnya selama memimpin Kabupaten Tojo Una Una.
Kala itu memprihatinkan adanya keterbatasan anggaran, namun terobosan terus dilakukan melakukan lobi dan membangun kerja dengan pemerintah pusat dan provinsi, bahkan dengan provinsi tetangga.
Bandara Tanjung Api yang diragukan pembangunnya dapat diwujudkan dengan sukses.
Pelabuhan kontainer di desa Mantagisi dan beberapa pelabuhan diwilayah kepulauan dibangun untuk memudahkan akses transportasi masyarakat.
Saat itu saya membagi zona kewilayahan, Kecamatan Tete adalah Kawasan industri, kecamatan Ampana Kota kawasan perdagangan dan daerah Tojo dan Tojo barat adalah Kawasan pertanian, sementara wilayah kepulauan adalah kawasan perikanan dan kelautan dan parawisata.
”Dikecamatan Ampana Kota kita pertahankan pelabuhan yang ada, Ampana kota sebagai teras wisata kepulauan Togean, harus ada pelabuhan yang memudahkan wisatawan untuk mengakses destinasi wisata bahari Kepulauan Togean” Ulasnya.
Ia mengungkap Kerja sama antara daerah yang membuahkan hasil, terbangunnya pelabuhan penyeberangan feri Uebone dan Wakai mengakses pelabuhan feri Gorontalo dan Kabupaten Pohuwatu. Untuk memperkuat kerja sama dibidang pertanian dan perkebunan, komoditi jagung saat itu menjadi primadona” Imbuhnya.
Banyak karya hasil pemikiran Damsik Ladjalani yang diimplementasikan ditengah masyarakat, sehingga ia digelar sebagai bapak pembangunan di Kabupaten Tojo Una Una.
Ingin mengetahui lebih jauh tentang Damsik Lajalani.
Ia mengungkap banyak yang ia lakukan lantaran tak membatasi diri untuk terus belajar dan menimbah pengalaman orang lain, turun tangan bukan diam dibelakan meja selama mengabdikan dirinya dibirokrasi, baik dikabupaten maupun provinsi.
Ia mengakui beberapa tokoh yang memiliki karakter melatari kehidupannya selama menitih karir dibirokrasi pemerintahan. Diantaranya Prof H. Aminudin Ponulele, Marto Herlan Kuswandi dan Arif Patanga, SH.
Diakuinya mereka memiliki talenta kepemimpinan, kavasitas dan kejujuran serta komitmen yang kuat membangun daerah. “bagi saya mereka bukan saja pantunan, tetapi telah menempah ke disiplinan dan etos kerja yang ulet.” Ujar mengenang masa lalu.
Apa yang saya peroleh dari mereka, saya terapkan dan dibuktikan sejak menjadi camat beberapa wilayah dikabupaten Poso, serta memimpin beberapa SKPD dimasa itu, baik di Kabupaten Poso maupun provinsi Sulawesi Tengah.
Pada pertemuan itu ia menyentil Perda No 6 Tahun 2022, menurutnya regulasi itu harus diterapkan, ditegaskannya bukan soal relokasi pasar saja, namun termasuk penertiban hewan ternak dan masih, pengangkutan sampah dan perangkat aturan lainnya terkait dengan kebersihan lingkungan dan keindahan Ibu Kota Tojo Una Una, jika ingin meraih Adipura.
Damsik Ladjalani mengatakan, sinergitas antar Lembaga perlu dieratkan lebih kuat lagi, karena kolaborasi produk kedua lembaga itu sangat mempengaruhi pengambilan kebijakan ditingkat pimpinan daerah, baik melalui peraturan daerah (Perda) maupun Peraturan Bupati (Perbub)
Dikisahkan Damsik Ladjalani saat kabupaten Poso pernah meraih Anugrah Prasamya Nugraha dizaman bupati Arif Patanga.
Satu ketika pak bupati memanggil saya sebagai asisten, singkat dan padat perintah yang saya terima.“tolong liat masih ada rumput didepan PLN” Ujarnya.
Yang saya temui dilokasi, kondisi sudah bersih dan rapih. Ujarnya
Dalam hati saya berpikir cepat, tak mungkin ada perintah lagi jika semua sudah beres dan rapih.
Dan ternyata setelah saya mengamati, disebuah tiang listrik ada seutas rumput yang merambat.Ia tersenyum mengenang kejadian itu.
Sebuah moment sederhana yang mengajarkan saya soal ketelitian dan pengamatan diberbagai aspek dalam area otoritas seorang pemimpin.
Banyak hal yang saya pelajari dan kagumi dari beberapa pemimpin yang sempat beriteraksi dengan saya sebagai bawahan mereka.
Bahwa benar kata bijak berkata, lebih baik kita diakui dari pada mengakui kelebihan diri kita sendiri, karena hal akan membuat kita lengah dan kehilangan kepekaan.” Ujarnya mengingatkan.
Jika seorang Damsik Ladjalani diusianya yang sepuh 77 tahun, memandang senja yang damai tentang keindahan hakiki diteras kehidupan.
Dibenaknya masih tetap ada kepedulian dan semangat yang tak rapuh oleh waktu.
Ia masih menyemangati dan keinginan yang kuat agar terjadi perubahan siknifikan Kabupaten Tojo Una Una, dibawah kepemimpinan yuniornya sebagai sang penerus.
Maka dititik catatan ini menyisakan kata, tiada alasan bagi setiap individu untuk menolak sebuah rencana besar meraih Adipura, anugrah yang harus diperjuangkan bersama.(samas)