PEMDA TOJO UNA-UNA

Imaginasi Camat Ampana Kota Mengangkat Budaya Lokal Momentum HUT Kabupaten Tojo Una-Una ke 21

686
×

Imaginasi Camat Ampana Kota Mengangkat Budaya Lokal Momentum HUT Kabupaten Tojo Una-Una ke 21

Sebarkan artikel ini

Mohammad Awali : Sejarah peradaban masa lalu yang telah mengantar bangsa ini pada era modern yang dinikmati anak cucu saat ini

Berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT  terbentuknya Kabupaten Tojo Una-Una yang ke 21, tepatnya 18 Desember 2024.

Camat Ampana Kota H. Mohammad Awali, S.Sos, M.Si bekerja sama dengan empat desa serumpun yakni Desa Sansarino, Desa Saluaba, Desa Buntongi dan Desa padang Tumbu’o, saat ini sedang mempersiapkan karnaval Roda (Pedati) Hias dengan apik guna menyemarakkan hari yang bersejarah bagi rakyat yang berada di tanah Sivia Patuju.

Catatan: Sam Asiku

Kejelian dan kepekaan camat Mohammad awali terhadap masyarakatnya  yang bermungkim didesa kecamatan Ampana Kota, nampak dalam mengapresiasi serta mempersiapkan karnaval roda tradisioanl dalam rangka menyambut hari yang bersejarah Tojo Una Una menjadi daerah otonom pisah dari Poso sebagai kabupaten induk 21 tahun yang lampau.

Tekad Mohammad Awali akan menghidupkan suasana kegembiraan menyambut Hut Kabupaten seutuhnya harus dirasakan oleh masyarakat hingga pelosok pedesaan.

“Suasana kegembiraan tidak saja menjadi milik masyarakat perkotaan, namun mereka yang hidup dipedesaan dapat merasakan dalam ide dan karya mereka. Alhamdulillah animo masyarakat desa yang cukup tinggi adalah modal besar untuk merealisasikan ide itu” Terang Camat Ampana Kota.

Dikataknnya, momentum itu jangan sampai terlewatkan, kami selaku pemerintah kecamatan sangat mengapresiasi dan mengakomodir animo masyarakat yang dikoordinir oleh 4 kades  serumpun, dalam rangka menghidupkan budaya dan kearifan lokal yang perlahan mulai memudar seiring perkembangan tegnologi.

Ia mencontohkan, awalnya Roda yang ditarik sepasang sapi, terbuat dari roda kayu dilapisi flat besi, namun seiring waktu sudah berganti dengan ban karet.

Angkutan tradisional mulai tersingkir, fungsi roda tergantikan dengan angkutan triseda, bahkan para petani merancang dan memodifikasi traktor selain, sebagai alat bajak, juga berfungsi layaknya truk dengan lingkaran setir ditangan pengendara, cukup unik untuk angkutan hasil panen  mereka.

Transpormasi diberbagai aspek kehidupan mulai mewarnai suasana dipedesaan, peran sapi tergantikan dengan mesin, untuk lebih mengefisien biaya pemeliharaan hewan dan efisien waktu dalam pengeperasiannya.

Meskipun kemajuan dipedesaan yang mulai menggerus budaya lokal ke gotongroyongan karena adanya tegnologi yang perlahan membentuk karakter kemandirian masyarakat dalam aktifitas kehidupannya, seperti tani dan perkebunan.

Namun demikian suasananya,  tak harus merupakan sejarah peradaban teknologi tradisonal pedesaan, betapa fungsi roda tradisional dalam sektor pertanian dan perkebunan,  mampu merealisasikan biaya pendidikan anak-anak mereka ketingkat Pendidikan lebih tinggi dalam mempersiapkan SDM.

Bahkan  investasi SDM  telah mengantar para penerus mereka hadir ditengah masyarakat diberbagai dimensi profesi bahkan menjadi pejabat di nerigerinya sendiri.

Dalam suasana merenung masa lalu, munculnya gagasan karnaval Roda hias, mampu mengungkit semangat masyarakat untuk bernostagia, mengenang kehidupan masa lalu yang dirindukan.”sehingga animo masyarakat bangkit untuk mengsukseskan konsep roda hias dalam rangka memeriahkan peringatan hari ulang tahun Kabupaten Tojo Una Una tahun ini. Ujar Mohammad Awali.

Foto Istimewa

Menurut Camat Ampana Kota, ada 3 konsep yang mengilhami gagasan karnaval  roda hias, yang pertama banyak peminat naik roda, kedua melestarikan transportasi tradisional dan  ketiga membudidayakan kearifan lokal. “Saya sebagai pimpinan wilayah sangat bersyukur gagasan ini diterima seluruh masyarakat desa, kedepan ia akan menghidupkan kembali budaya lokal, juga beberapa permainan tradisional diantaranya lomba  gasing, kontau. musik bambu

Nah bagaimanan nanti tahapan implementasi kegiatan karnaval Roda hias ?

Yang jelas kata camat akan meriah, karena memvisualkan pakaian, asesoris dan peradaban masyarakat desa tempo doeloe.

Dipadukan dengan aktraksi seni dan budaya lokal selama pawai berlangsung, nyanyian rakyat dari bait dan syair berbahasa daerah Ta’a dan Bare’e, sejak dari garis star desa Padang Tumbu’o tepatnya rumah wallet bupati dan berakhir di lapangan STQ Bumi mas Kelurahan Uemalingku, tepatnya didepan kantor bupati.

Meskipun kegiatan ini hanya dalam lingkup kecamatan, namun menjadi daya dorong bagi sektor parawisata jika ada yang menanggapi keseriusan untuk menjadi salah satu program pendukung sektor keparawisataan dan kebudayaan dikabupaten Tojo Una Una.

Sederhana dikatakan Mohammad Awali, program kami tidak harus yang wah dan mengandalkan biaya besar, teteapi mengandalkan dukungan masyarakat dalam berkoraborasi.

Karnaval Roda hias adalah bagian kecil dari sisi kehidupan masa lalu masyarakat di kabupaten Tojo Una Una, yang memiliki  daya ungkit yang kuat  dalam  menambah refrensi sejarah peradaban masyarakat yang mendiami kabupaten Tojo Una-Una, dengan segala peradaban dan budaya yang dimilikinya.

Sangat  berdampak dan berpotensi jika termanfaatkan  dengan baik serta terpublis dengan baik dan apik, minimal dapat mengundang animo wisatawan manca negara yang sedang stay di Ampana terpikat untuk menikmati daerah atau negara yang dikunjunginya” (Samas.)