JURNALPOLRISULTENG.ID, PALU – Tanah Kaili menatap langit senja dengan tatapan mata yang lelah. Di atas riak Sungai Palu yang membelah ingatan, Jembatan Lalove berdiri membisu, menyaksikan bagaimana amarah kembali membakar malam menjadi abu, dan menyisakan perih yang tak bertepi pada tanah pertiwi.
Di sana, di perbatasan tipis yang memisahkan Kelurahan Nunu dan garis Jalan Anoa, bara perselisihan kembali menyala, melukai persaudaraan yang telah lama dirajut oleh para leluhur.
Bentrokan berdarah itu pecah bagai badai yang merenggut ketenteraman kota. Ketika genderang ketegangan bertalu di gelap malam, kepulan asap dari warung usaha milik warga yang dilalap api membumbung ke angkasa, membawa serta mimpi-mimpi sederhana warga yang ludes dalam sekejap mata.
Dan yang paling memilukan dari segalanya, sesosok tubuh meregang nyawa, meninggalkan duka yang mendalam di palung hati keluarga. Darah yang tertumpah di tanah Tadulako malam itu adalah air mata bagi kedamaian yang mendadak sirna.
Mendengar kabar duka tersebut, berdirilah seorang kesatria tua. H. Rusdy Mastura, tokoh besar yang dihormati dan akrab disapa Ka Cudi oleh seluruh anak negeri, tak mampu membendung rasa sedihnya yang teramat dalam. Rambutnya boleh memutih disapu sang waktu, usianya boleh terus berjalan menjemput senja, namun cintanya pada kota ini tak pernah mengenal kata jeda. Bagi Ka Cudi, bentrokan ini bukan sekadar berita biasa, melainkan sembilu yang menyayat kembali memori perjuangan masa lalunya.
Ingatan publik langsung terbang ke belakang, sekitar dua puluh tahun silam. Saat itu, ketika Ka Cudi pertama kali mengemban amanah sebagai Wali Kota Palu, wilayah Nunu dan Anoa kerap didera konflik serupa yang memakan korban.
Di masa-masa pelik itu, Ka Cudi tidak memilih berlindung di balik meja kekuasaan. Ia turun langsung ke garis batas, berjalan kaki tanpa sekat, merangkul para tetua adat, dan mengetuk pintu hati para pemuda yang sedang membara. Melalui pendekatan kemanusiaan dan keadilan hakiki yang menjadi ciri khas kepemimpinannya, ia berhasil menyatukan dua wilayah tersebut dalam sebuah ikrar perdamaian yang bertahan hingga bertahun-tahun. Jejak sejarah itulah yang membuat Ka Cudi diakui dunia sebagai maestro pemulihan rekonsiliasi sosial dari Bumi Tadulako.
Maka, ketika perseteruan lama ini kembali meletus di dekat Jembatan Lalove, kepedihan Ka Cudi terasa berlipat ganda, menjadi sebuah renungan bagi anak negeri melihat ketulusan sang sepuh yang selalu memeluk masyarakat dengan hangat. Melalui untaian kata dalam rilis video pernyataannya, suara sang tokoh senior terdengar getir dan bergetar hebat menahan keharuan. “Kita ini semua orang Palu, satu rumpun, sama-sama anak daerah yang punya ikatan darah dan keluarga,” ucapnya dengan ketulusan yang murni.
Suaranya bergaung teduh, meminta seluruh warga segera meletakkan batu, busur, dan segala senjata amarah. Ia mengingatkan dengan pemahaman yang hakiki bahwa sebuah daerah tidak akan pernah bisa mengecap manisnya kemajuan jika fondasinya dibangun di atas reruntuhan kebencian antarsaudara. Ka Cudi memohon agar nilai Sintuwu Maroso kembali digenggam erat sebagai pelindung dari adu domba yang menyesatkan.
Di bawah komando penegak hukum, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Rizal Irawan memikul tantangan berat demi menyiasati dan merajut kembali benang-benang perdamaian yang sempat terkoyak. Ratusan personel gabungan TNI-Polri kini bersiaga penuh di bawah temaram lampu Jembatan Lalove, memastikan agar malam-malam selanjutnya tidak lagi dicekam oleh suara dentuman petasan dan teriakan saling serang. Namun, senapan dan tameng baja hanyalah pembatas fisik. Obat sesungguhnya dari luka ini ada pada kelapangan hati warga Nunu dan Anoa untuk meneladani jalan damai yang dulu pernah dibentangkan oleh Ka Cudi.
Bagaimana pun, genangan air mata sang penakluk hati dengan jiwanya yang penuh kasih tidak akan pernah runtuh atau sirna oleh perjalanan waktu. Di usianya yang kini menginjak 77 tahun, seharusnya Ka Cudi sudah dapat menikmati lembayung senja yang tak pernah lama mempersembahkan keindahannya kepada sang jembatan hati masyarakat di Bumi Tadulako yang kita cintai. Namun demi kedamaian, ia memilih tetap berdiri tegak mengawal nurani warganya.
Kita harus mengingat kembali betapa semua elemen di tanah ini pernah terluka, berduka hingga menangis pilu sampai air mata mengering, bahkan tanah seolah hampir tak bisa diletakkan tapak kaki. Alam telah menguji ketahanan batin masyarakat Palu secara dahsyat saat bencana gempa dan tsunami memporak-porandakan kehidupan dari semua lini beberapa tahun silam.
Namun, kebangkitan hakiki yang ditunjukkan masyarakat setelah badai itu begitu luar biasa—bahu-membahu mengumpulkan harapan dan menata kembali kehidupan dari puing-puing kehancuran. Semua ketabahan ini adalah anugerah nyata, sebuah pertanda kebesaran jiwa dan kesabaran yang ditiupkan Tuhan di setiap hati manusia di Bumi Tadulako. Sungguh ironis dan memilukan, jika ketahanan batin yang kokoh menghadapi ujian alam itu, kini justru harus terkoyak oleh ego dan pertikaian antarsaudara sendiri. Semoga ini yang terakhir kali.”aamiin”
Kini, di tengah Kota Palu yang sedang memulihkan diri dari duka, seruan sejuk sang tokoh karismatik dikirimkan ke setiap sudut rasa. Sebuah harapan besar digantungkan pada langit malam Jembatan Lalove, berharap agar fajar esok hari membawa kedamaian abadi yang tak akan pernah retak lagi, demi menghormati air mata sang penakluk hati dan ketabahan jiwa yang telah dianugerahkan Tuhan pada tanah ini. Dimana Allah yang maha pengasih merindukan kedamaian bagi insan ciptaannya.(JPS)
