Terasa baru kemarin, apa yang terjadi hari ini, Rabu 14 Mei 2025 yang merupakan Puncak penyelenggara pelepasan Calon Jemaah Haji (JCH) di Kabupaten Tojo Una Una Sulawesi Tengah mengarahkan ingatan dan hati, semata kepada panggilan Sang Pencipta yang maha Agung dan bijaksana.
3 Unit Armada Angkutan Haji yang disiapkan PO Karisa, sejak pukul 7.30 Wita sudah terparkir rapi, diantara mobil lain dari dinas Kesehatan, dan Patwal Polres Tojo Una Uan disiagakan didepan pintu kanan pelataran masjid Tsamatul Ukhuwah Kelurahan Muara Toba kecamatan Ratolindo.
Tepat pukul 08.00 wita Bupati Tojo Una Una Ilham Lawidu, SH, disertai Kapolres Tojo Una Una AKBP Ridwan JM Hutagaol SIK, SH, Kajari diwakili Kasi Humas, Laode Moh Zulul,SH serta Wakil ketua DPRD Tojo Una Una Jafar M. Amin, SE memasuki ruang masjid.
Pimpinan dan Perangkat OPD Pemda Tojo Una Una sudah menunggu bersama ratusan masyarakat yang memenuhi ruang masjid, sebagian besar menunggu dipelataran kendati mentari yang beranjak naik menyengat. Tak terkecuali para alumni haji tahun 2024 berbaur dengan para pengantar, adalah moment merenung kembali saat peritiwa pemberangkatan mereka yang lalu.
Laporan : H. Sam Asiku
Disisi Mobil Ambulance tim kesehatan yang siap mengawal perjalanan para Jemaah hingga palu, terlihat dr. Farah H.J. Juraedjo berteduh menghindari sengatan matahari.
Mengorek darinya tugas apa yang diamanatkan kepadanya?

dr.Farah akan mengawal para Jemaah Haji hingga ke emebarkasi Balik Papan.
Baginya tugas itu merupakan amanah yang perlu disyukuri, sebagai seorang dokter maupun anak daerah mengawal para Jemaah calon Haji diantaranya terindikasi penyakit yang membutuhkan perhatian.
Pengawalan adalah ikhtiar dan kewaspadaan sebagai petugas medis yang harus memastikan para Jemaah dalam kondisi yang baik” Ujarnya.
Diantara para jemaah ada mengindap diabetes melitus, yang harus mengkonsumsi obatnya secara rutin.
Ibadah haji menurutnya menggunakan fisik dan tenaga. “saya berpesan, kepada JCH terutama yang terindikasi penyakit tertentu, agar mengkonsumsi obat secara rutin, sebagai antisipasi terhadap resiko yang bisa saja terjadi.
Serta pesan pentingnya mengunakan APD, seperti masker dan payung disaat dibutuhkan. Tandas dr Farah.

Harapan dr. Farah senada dengan pesan bupati, agar menjaga kesehatan selama pelaksanaan ibadah,mengingat cuaca di Arab Saudi sangat berbeda dengan di Indonesia.
“Ikuti arahan dari petugas haji, konsumsi makanan dan vitamin dengan teratur, serta istirahat yang cukup. Jangan memaksakan diri ketika tubuh tidak fit, karena Allah maha mengetahui usaha dan niat hamba-nya.”Ucap bupati berpesan kepada masyarakatnya.
Diantara bait-bait sambutannya ungkapan bijak sang pemimpin menitipkan pesan arif, kepada para Jemaah Calon Haji. Disampikan dengan ucapan halus perlahan, namun menghentak relung kalbu, menyisahkan keheningan bisu mengungah rasa ingin menangis kuat para hadirin saat itu.
Bahwa hari ini adalah saat terindah bagi para JCH yang sebentar lagi memulai perjalan ibadah Haji, perjalan spiritual yang di idamkan setiap umat islam. “Ibadah haji yang menuntut kesiapan lahir batin sebagai tamu Allah.”Ucap bupati memberi support.

Sebagai pimpinan daerah Ilham Lawidu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih pada jajaran kementrian agama, panitia haji, pembimbing haji serta tenaga medis, melakukan tugas yang kolaboratif dan terpadu demi suksesnya tugas dalam mempersiapkan seluruh proses pemberangkatan dan pelepasan haji.
Banyak pesan disampaikan bupati, semata menginginkan masyarakatnya dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji tetap dalam keadaan sehat dan selamat hingga kembali kerumah.
Bupati mengingatkan, agar menjaga niat yang tulus hanya karena Allah SWT. “Luruskan niat, ikhlaskan hati, dan berserah dirilah sepenuhnya kepada Allah dalam setiap langkah menuju kepadanya.”Ucap Bupati.
Pertahankan kekompakan dan persaudaraan antar sesama jama’ah. Saling bantu, saling mengingatkan, dan saling mendoakan. “Ingatlah, anda tidak hanya membawa nama pribadi atau keluarga, tetapi juga membawa nama baik kabupaten Tojo Una-Una dan bangsa Indonesia di mata dunia.” Ujar Bupati.

Masih dalam rangkai kata pelepasan, bupati berucap mengundang haru para hadirin tanpa sadar meneteskan air matanya.
Insya Allah, setelah kembalilah jadilah haji yang membawa semangat perubahan.
Jadilah pribadi yang lebih sabar, lebih santun, dan lebih bertaqwa.
Karena sejatinya, haji bukanlah akhir dari ibadah, tetapi awal dari peningkatan kualitas hidup sebagai insan yang lebih dekat kepada Allah Swt.
Rangkaian ibdaah haji adalah penguatan iman untuk pribadi yang menebar kebaikan dan keteladanan di tengah masyarakat.
Detik ini pula, mengabarkan keghaibanNya serta mengisyaratkan bahwa menjadi tamu Allah tidak mudah, meskipun semua berniat untuk ke Baitullah. Bukan siapa yang kaya Raya dan bukan pula mereka yang miskin, namun Allah yang maha mengetahuinya.
Namun Allah yang menentukan pilhan siapa saja yang diberinya pertolongan.
Bupati mencontohkan pengabdian seorang dokter diwilayah dataran Bulan, banyak petugas tidak ingin berbakti disana.
Toh melalui pertolongan Allah, dokter itu terpilih menjadi pendamping Haji Nasional disamping Petugas Penyelenggara Haji Nasional Kasih Haji Kemenag Tojo Una Una Hj. Zulaiha Mohammad, S.Pi.
Dikatakanlah bupati, pelaksanaan haji tahun ini, adalah moment yang diidamkan yang merupakan haji akbar, haji besar yang dirindukan oleh Rasulullah, para sahabatnya, para mu’minin. “wukuf diarafah bertepatan dengan hari Jumat 1446 Hijiriah.
Catatan akhir pada alinea ini, bahwa Allah maha mengetahui kesabaran dan ketaqwaan seorang.
Adalah penyebab dalam memberi balasan setimpal kebaikan Allah yang maha penyayang dan pengasih.
Bahwa sebuah kenyataan Hj. Zuleha Mohammad, S.Pd selalu kasi Haji Kemenag Tojo Una Una, baru saja ditinggal suami tercinta.
Dalam dalam suasana duka, pada dentangan waktu yang terbatas harus meninggalkan kota Ampana, meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, dituntut keberangkatannya lebih awal ke Tanah Haram, untuk mengemban tugas dan amanahnya.
Air mata yang tersisa menyertai perjalannya, tanpa menoleh lagi karena panggilan Allah. Untuk kedua kalinya menginjakkan kaki di Tanah Haram, bukan untuk berhaji, namun sebagai Petugas Penyelenggara Haji Nasional. (PPHN).
Diujung Azan yang mengalun syahdu, Mobil yang membawah para JCH perlahan meninggalkan pelataran Masjid Agung Tsamatul Ukhuwa.(samas)