JURNALPOLRISULTENG.ID – TOJO UNA UNA, Beberapa tragedi serangan predator dikepuluan Togean menjadi catatan penting. Kejadian terakhir kasus serangan buaya terjadi di desa Tanjung Pude,kecamatan Una Una Kabupaten Tojo Una Una Sulawesi Tengah.
Keterangan pihak kepolisian Polres Tojo Una Una, korban yang dikethui siswa SMP berinisial SL diterkam buaya, berhasil lolos dari maut karena bergulat dengan makhluk buas itu. Korban dibawa ke RSUD Wakai untuk mendapatkan penangan medis pada luka robek di betisnya. pada Minggu 26 Oktober 2025.

Foto Istimewa Penangkapan Buaya di Desa Wakai Kecamata Una Una, Kabupaten Tojo Una Una, Sulwaesi Tengah tahun 2024
Hingga saat ini belum ditemukan solusi kongrit penanganan reftil besar itu yang mulai masuk kewilayah pemukiman masyarakat, bahkan beberapa tragedi serangan buaya telah menimbulkan kematian beberapa warga dikawasan tersebut.
Pihak KDSA Konservasi Sumber Daya Alam atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertugas mengelola kawasan konservasi seperti cagar alam, suaka margasatwa, dan taman wisata alam, serta melakukan konservasi tumbuhan dan satwa liar di wilayahnya. BKSDA juga mengawasi peredaran satwa dan tumbuhan liar yang dilindungi, secara resmi belum merilis metode penaggulangan reftile ganas dikawasan kepulauan Togean.
Bahkan dinas Lingkungan Hidup Tojo Una Una, belum memperlihatkan tanda, apakah telah melakukan koorinasi dengan pihak yang berkompoten.

Foto Istimewa
Kasus buaya di Kepualaun Togean berbeda penanganan dengan penanganan kasus buaya berkalung disungai Palu Sulawesi Tengah beberapa waktu yang lalu. Target tangkapan jelas, itupun sempat mengalami kesulitan penangkapannya, meskipun sempat mendatangkan ahli dan pawang buaya..
Kondisi dan situasi kepualauan Togean, dimaklumi tingkat kesulitannya untuk mengetahui kuantitas populasi buaya serta tempat yang menjadi habitatnya.
Disisi lain Kepulauan Togean adalah Kawasan kunjungan wisatawan manca negara yang datang beraktifitas kegiatan laut, seperti diving dan snorkeling.
Serangan buaya dikawasan kepulauan Togean, bukan hal biasa lagi, namun menjadi kasus luar biaya butuh perhatian dari pihak terkait, dan pemerhati lingkungan karena terkait dengan kemanusian.
Upaya preventif Polres Tojo Una Una melalui Kapolsek Una-Una Iptu Sodang Datuan, SH masih sebatas memasang spanduk peringatan dan himbauan pada masyarakat.
Dari beberapa sumber diketahui, buaya adalah predator oportunistik yang akan menyerang jika ada kesempatan, bukan karena mereka sengaja mengincar manusia sebagai mangsa utama mereka. Buaya adalah reptile pemburu yang hebat, tetapi mereka hanya akan berburu jika ada kesempatan.
Sumber lain menjelaskan, manusia adalah mangsa potensial yang seringkali masuk ke habitat mereka, dipicu oleh beberapa faktor seperti gangguan habitat, kelaparan akibat berkurangnya sumber makanan alami, atau provokasi langsung.
Kondisi kepulauan Togean, memiliki habitat buaya air asin meliputi perairan pesisir, muara sungai, rawa bakau, dan juga sungai air tawar, sering terlihat oleh masyarakat buaya diperairan laut, karena kemampuannya beradaptasi di lingkungan asin maupun tawar.
Tanggapan Hellen Kurniati, Peneliti utama Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesa (LIPI) terhadap kasus serangan buaya dialami warga sungai Muara Jawa Ulu Kutai Kartanegara, diawal Januari 2017, mengatakan bahwa penyebab buaya menyerang manusia adalah karena buaya kehilangan pakan alaminya.
Ketika wilayah yang dihuni buaya mengalami penurunan jumlah makanan, maka buaya akan mencari wilayah baru yang mampu menjamin keberlangsungan hidup mereka.
Buaya merupakan predator yang menargetkan hewan dengan ukuran lebih kecil dari ukuran tubuh mereka. Hewan yang menjadi incaran mereka adalah ikan, burung, reptil, dan mamalia kecil.
Buaya maupun aligator, mereka hanya menyerang ketika ada objek yang bergerak di sekitarnya.
Pembangunan wilayah yang mengalihfungsikan kawasan habitat buaya, juga berdampak pada jumlah makanan buaya. Habitat alami buaya terganggu dan buaya menjadi mudah bersinggungan dengan manusia secara langsung.
Sementara dari laman BBC, Rick Langley dari dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan North Carolina di Raleigh, mengatakan bahwa serangan buaya cenderung menjadi lebih umum karena populasi manusia dan buaya semakin meningkat. Sedangkan pembangunan yang dilakukan oleh manusia semakin gencar dilakukan dan merambah habitat buaya.
Tidak hanya populasi, musim juga mampu menjadi faktor pemicu agresifitas buaya. Musim kemarau merupakan musim kawin bagi buaya, sehingga beberapa jenis dari mereka akan menjadi lebih sensitif dan mudah menyerang.
Sebenarnya, manusia bisa saja berdampingan dengan buaya tanpa harus menimbulkan masalah. Selama aturan-aturan yang sudah ditegakkan dipatuhi oleh manusia.”Hidup berdampingan dengan predator besar berbahaya, mengharuskan kita untuk memahami perilaku mereka dan menjaga perilaku saat berada di sekitar mereka,” ucap Simon Pooley dari Birkbeck College, University of London. (Sam Asiku)